UTS Semester 3

Well, akhirnya UTS yang begitu melelahkan dan menyita banyak waktu ini selesai juga..

Kuliah yang begitu sibuk dan melelahkan karena banyaknya tugas yang diberikan kepada kami, membuat UTS terasa terlalu cepat datang.. Sepertinya kuliah di semester 3 ini belum terlalu lama, tapi tiba-tiba jadwal UTS udah keluar aja.. Bahkan PROXY (kelas baruku) masih kuliah sampai hari sabtu di pekan terakhir kuliah tahap 1..

Namun ternyata tugas-tugas yang luar biasa banyak yang kami terima sejak hari pertama kuliah sampai pekan terakhir membawa dampak yang positif, setidaknya bagiku. Gara-gara tiap hari ada saja tugas kuliah yang mesti aku kerjakan, mau tak mau aku juga tiap hari belajar. Hal itulah yang membuatku tidak terlalu merasa berat ketika tiba-tiba ujian itu datang (alay).

Gara-gara tugas-tugas dan ujian pulalah yang membuatku semakin dekat dengan teman-teman PROXY. Sebelum ujian, hampir tiap hari Senin kami berkumpul untuk membahas tugas yang bakal dikumpulkan. Ketika masuk masa-masa ujian pun PROXY mengadakan belajar bersama tiap siang. Belajar bersama ini alhamdulillah dapat kami jalani sampai hari terakhir ujian.

Dan, hari ini adalah hari terakhir UTS semester 3 bagi kami. Semoga tiap usaha yang telah kami lakukan mendapat hasil yang memuaskan.

SUKSES UTS SEMESTER 3.!!

Untuk SATGAS dan PROXY, semoga kita dapet nilai yang bagus supaya bisa tetap bertahan di kampus Ali Wardhana ini.. Aamiin,

^^

He’s My Best Friend

Begitu banyak orang yang aku temui, semenjak aku diizinkan hidup di dunia ini lebih lama dari kakakku hingga 18 tahun kehidupanku. Beberapa di antara mereka meninggalkan jejak lebih dalam dibanding yang lain. Salah satu dari mereka adalah seseorang yang aku anggap sebagai kakak di kampus Ali Wardhana ini.

Seharusnya aku menulis ini di halaman SATGAS, tapi karena aku pikir ini mengenai kisah pribadiku, sebaiknya aku pisahkan saja post ini. πŸ™‚

Sebenarnya awal aku dekat dengan Kakak sepele saja. Namanya yang unik dan mengundang kontroversi membuat sebagian (atau malah semua) anggota SATGAS penasaran. Kami juga mempunyai beberapa kesamaan, termasuk nama ayah yang kebetulan juga sama. πŸ˜€

Well, sebenarnya bukan hal yang mengejutkan jika aku berteman dekat dengan lawan jenis. Sejak SD sampai sekarang, aku gampang sekali akrab dengan laki-laki. Mereka juga nyaman berteman denganku. Menurut mereka, aku orangnya asik diajak berteman.

Tapi dengan Kakak, mungkin agak lain. Dia adalah sosok Kakak yang baik, perhatian pada teman-temannya, humoris, peduli, protektif, dan setia. Setia, kata satu ini bermakna sangat dalam bagi Kakak mengingat LDR yang dia jalani bisa tetap bertahan sampai sekarang.

Berteman dengannya bagai mendapat air es di tengah gurun. Betapa dia merupakan salah satu anugerah Allah yang Dia kirim sebagai ganti atas kekecewaanku diterima di kampus Ali Wardhana ini. Dia senantiasa membuatku merasa seperti adik dalam posisiku sebagai anak pertama di keluargaku. Dia yang sering mengingatkan aku untuk tidak pulang terlalu malam. Dia yang suka mengomel kalau aku begadang atau lupa makan. Dia yang selalu mengantarkanku pulang sampai depan kos kalau kebetulan pulang searah. Dia, Kakakku…

Kami begitu dekat memang. Sampai-sampai anggota SATGAS yang lain berfikir kami sudah atau hampir pacaran. Tidak, kawan, kalian salah. πŸ™‚

Kami memang dekat, sebagai teman, sahabat, saudara. Kami dekat justru karena kami menjalani semua tanpa ikatan maupun status. Kami paham posisi kami masing-masing dan niat awal kami untuk berteman, yaitu tulus menjalin persahabatan dan tak boleh ada ‘rasa’ yang menodai persahabatan tersebut.

Kami tak setiap hari smsan. Semenjak naik ke tingkat 2 pun kami berbeda kelas sehingga jarang bertemu. Meski begitu, aku tak pernah merasa kehilangan dia. Mengapa? Kami siap mendengar curhat salah satu dari kami kapanpun dibutuhkan. Kami akan membalas jika salah satu dari kami SMS duluan, seberapapun tak pentingnya itu. Kami siap menguatkan saat salah satu dari kami jatuh. Kami siap mengingatkan saat salah satu dari kami lengah. Kami ada dan kami peduli.

Hubunganku dengan kakak membuatku sadar, tak perlu segala macam status untuk mengikat kita. Cukup dengan ketulusan dan Allah yang akan menjaga kita.

Sempat terfikir di benakku, akankah ada seseorang yang mampu menjalani hubungan sebagaimana aku dengan Kakak tapi dengan orientasi yang berbeda. Bukan sebagai sahabat, tapi lebih sebagai calon pendamping. Mungkin aku terlalu muda untuk itu, tapi tak ada salahnya jika aku sedikit mempunyai angan tentang itu.

Bukankah baik jika aku bisa menghindari pacaran yang notabene dilarang oleh Islam? Bukankah dengan hubungan yang berlandaskan niat dan ketulusan ini mampu menjaga kita pada batasan-batasan yang semestinya? Hubungan yang tulus, berniatkan keinginan untuk saling mengenal, memahami, dan mengambil keputusan yang terbaik, tanpa paksaan, tanpa keharusan untuk berlaku tertentu, tanpa melanggar batasan yang semestinya. Hanya ketulusan yang murni datang dari hati dan disertai doa yang tulus untuk dapat memutuskan yang terbaik.

Namun sekali lagi, manusia hanya bisa berangan, berencana. Hanya Allah yang berhak memutuskan semuanya. Yang pasti, Kakak membuatku sadar mengenai makna hubungan yang sebenarnya.

He’s my best friend and always be my best friend, insyaAllah..

^^

Semester 3

hai hai hai..

Tiba-tiba lagi pengen posting nih.. Bukan tulisan yang berat-berat kok, cuma pengen cerita aja.. πŸ™‚

Jadi gini ceritanya..

Dulu, waktu masih tingkat 1 alias semester 1-2, kuliah terasa menyenangkan.. Gimana nggak?? Seminggu cuma masuk 3 sampai 4 hari doang. Itupun nggak seharian penuh. Jarang ada tugas. Dosennya juga enak. Bahagia lah pokoknya. Aku bahkan hampir tiap minggu balik ke Bekasi saking nggak ada kerjaan di kos.

Sekarang, setelah memasuki tingkat 2 awal alias semester 3, hidupku berubah.. Yang dulu masih suka dan sempet begadang cuma buat main NFS Underground dan download lagu, sekarang hampir tiap malem begadang ngerjain tugas.. Yang dulu jarang banget punya buku apalagi dibaca, sekarang buku selalu terpakai meski gara-gara tugas juga.. Yang dulu seminggu pertama masuk kuliah masih belum butuh kertas ama pulpen, hari pertama semester 3 udah dapet tugas Akuntansi Keuangan Menengah sebanyak 21 soal esai.. Dan sampai hampir UTS ini pun cuma 1 mata kuliah dari total 7 mata kuliah semester 3 yang nggak ngasih tugas.. Bahkan minggu ini, minggu terakhir kuliah tahap 1 semester 3, kelasku terancam kuliah full dari hari senin sampai sabtu..

Sebenernya nggak masalah juga sih mau kuliah kapan aja dan tugas seberapa aja.. Toh aku maklum, aku masih sebagai mahasiswa bukan dosen.. Tapi entah mengapa gara-gara banyak tugas itu aku jadi males merhatiin dosen kalau di kelas.. Hampir di tiap mata kuliah aku bisa tidur atau ketiduran (apapun itu).. Rasanya tu capek, lelah, bosen sama pelajarannya.. Bukan karena aku udah ngerti sih, sebenernya aku juga masih belum paham, cuma gara-gara banyak tugas ni otak udah capek mikir.. Bawaannya ngantuk mulu kalau di kelas..

Emang sih, gara-gara banyak tugas itu aku jadi tobat mendadak.. Tiap hari ada aja yang dikerjain..

Pas awal-awal sih masih semangat, tapi karena hampir tiap hari ada tugas, lama-lama bosen juga gitu.. Apalagi aku bukan tipe orang yang suka sama rutinitas yang hampir sama dan berulang-ulang macam tugas-tugas tu..

Tapi yah, sekali lagi saya hanya sekedar mahasiswa yang menerima metode mengajar dosen yang macem-macem gitu lah..

Intinya: saya harus ikhlas dan harus segera menyelesaikan tugas saya buat besok..

Doakan saya ya kawan, semoga saya masih bisa bertahan.. ^^

Me and My Dad

Sebagai seorang anak perempuan, aku memang sangat mengagumi ibu. Namun disamping itu, sebagai seorang anak yang paling tua, aku sangat mengagumi ayah.

Ayah adalah sosok yang sangat penyayang dan pekerja keras. Dia juga seseorang yang suka menolong. Dia mendidikku dan adikku dengan cara yang berbeda. Dia membuatku tetap sebagai perempuan tapi perempuan yang tidak lemah, dan membuat adikku sebagai laki-laki yang lebih bebas, kreatif, dan berani.

Dia, menurut ingatanku, tak pernah benar-benar marah di depan kami, anak-anaknya. Kalaupun dia marah, itu adalah ekspresi dari kekhawatirannya pada kami. Dia juga seperti kebanyakan orang yang bergolongan darah O yang sulit ditebak. Aku begitu menyayangi ayahku. Setelah kakak perempuanku meninggal dan ibu melahirkanku, ayah seperti mendapatkan mbak Friska kembali. Dia sangat menyayangiku, mengerti aku, dan memanjakanku.

Dia sering mengajakku jalan-jalan, membawaku ke kantornya, pergi ke rumah saudara naik motor, menunjukkan padaku indahnya bukit bintang, dan hal kecil lainnya.

Waktu kecil dan umurku belum mencapai 10 tahun, aku sering mengerjai ayahku. Sejak kecil aku suka begadang nonton TV. Bahkan tak jarang aku ketiduran di atas tikar ruang TV. Jika sudah begitu, ayah pasti menggendongku ke kamar. Aku suka sekali digendong ayah. Kalau lagi manja biasanya aku pura-pura ketiduran. Setelah ayah menggendongku, aku akan mengagetkannya dengan bangun tiba-tiba. πŸ˜€ Ayahku juga suka mengantarkanku ke sekolah berboncengan dengan temanku.

Ayah juga pernah menyuapi aku dan adikku, menemaniku di rumah berdua jika ibu menginap di rumah eyang, menggelitikiku hingga menangis, membelikanku boneka kelinci (boneka pertama dan warnanya pink) dan majalah Bobo, juga menyisir rambutku. Dia selalu membuatku merasa aman. Kadang jika ayah pergi hingga larut malam, aku menunggunya tanpa bisa tidur untuk membukakan pintu untuknya. Aku juga suka menungguinya mengetik pekerjaan kantor sampai larut malam. Selain karena bunyi mesin tiknya yang berisik dan membuatku tak bisa tidur, aku senang melihat kelincahan jari jemarinya saat mengetik. Dia juga fotografer andal yang banyak menjuarai lomba fotografi, pembuat gambar ornamen dan tulisan hias yang indah, dan vokalis band yang tak jelas nama dan nasibnya. πŸ˜€

Dia juga pernah menjadi pemain bola di desa. Kadang dia main sebagai penyerang, kadang juga sebagai kiper. Kalau bapak sedang menjaga gawang, aku suka menonton di belakang gawangnya.

Dia pernah membangunkanku di pagi buta hanya untuk menonton pertunjukan wayang kulit.

Sebagai seorang ayah, dia juga pernah menangis. Waktu itu aku harus operasi amandel. Dalam keadaan setengah sadar dan masih dalam pengaruh obat bius, menurut cerita ibuku, aku merintih kesakitan seusai operasi. Saat itulah ayahku menangis, mengkhawatirkan keadaanku.

Hal mengharukan lainnya adalah saat aku SMA. Waktu itu aku berhasil menduduki peringkat kedua di kelas aksel waktu ujian semester. Keluar dari ruang penerimaan rapor, dia tersenyum begitu tulus dan tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Aku harap aku bisa melihat senyum itu saat aku diwisuda kelak. Aamiin, πŸ™‚

Yap, begitulah ayahku. Ayah yang aku sayangi dan menyayangiku, adikku, ibuku, dan orang-orang di sekitarnya.

Ditulis di Wonosari, pada 9 September 2011