Kadal vs Cicak

Kadal: “Cak, apa yang akan kamu lakukan kalau ekormu digigit hewan lain?”
Cicak: “Aku putuskan saja ekorku lalu pergi.”
Kadal: “Cemen. Gigit balik dong.”
Cicak: “Gak ah, buang-buang tenaga.”

Beberapa hari kemudian, Kadal mati digigit ular.

Berapa banyak orang yang lebih fokus pada pembalasan dendam dibandingkan pemecahan masalah? Berapa banyak pemimpin yang lebih suka mencari kambing hitam dibanding mengakui kesalahannya?

Suatu saat nanti, mereka akan tertindas oleh apa yang sebelumnya mereka injak.

Bukankah tai saja setelah diinjak-injak masih membuat sebal pemilik sepatu dengan baunya yang tak sedap?

Iklan

Aku Jatuh Cinta

Cinta memang seringkali datang tanpa menyapa

Tau-tau dia sudah ada dan bersemayam

Bermula dari sapaan, jadi rindu, dan cinta pun datang

Dan kini,
Ku tlah jatuh cinta

Pada sekumpulan orang yang saling menggoda dan tertawa

Pada pipi gembul bocah-bocah yang lahap makan

Pada bulir padi yang makin berisi dan menguning tangkainya

Pada rintik hujan yang membuat becek jalanan

Pada burung dara yang dikejar anak-anak

Dan sekejap ku merasa rela

Untuk datang lagi

Lagi

Dan lagi

Aku tlah jatuh cinta 🙂

Stasiun Gambir, 30 Januari 2017

Give Me Hope

Where’s the strength I need?

It’s high, high above the sky

Where’s the strength I need?

It’s far, far away from me

Where’s the strength I need?

It’s deep, deep inside my heart

Give me hope,

Strengthen me,

Cause I want ***,

Yes, I want ***

So please, give me hope

…Yaa Rabb

Tiba-tiba Rindu

​Begitu berat kata rindu ini
Belum sempat terucap, didahului air mata

Ku coba tuliskan rindu
Tapi dingin merayapi tubuhku

Maafkan aku, maafkan kami
Yang mungkin tak pantas untuk sekedar ucapkan rindu

Maafkan aku, maafkan kami
Tak lagi kami mampu bedakan kawan dan lawan
Hingga tiba-tiba kami tertikam

Maafkan aku, maafkan kami
Yang tak lagi tau beda benar dan salah
Ketika putih menjadi perak, dan hitam berubah kelabu

Maafkan aku, maafkan kami
Aku hanya tiba-tiba rindu

Maulid Nabi Muhammad saw, 12 Rabiul Awal 1438H

Jakarta-Jogja, 9-10 Sept 2016

Assalamu’alaikum
Alhamdulillah, hari ini kembali diizinkan oleh Allah untuk mengunjungi kampung halaman.
Pulang kampung kali ini aku naik kereta Bogowonto dari Pasar Senen tujuan Lempuyangan. Waktu keberangkatan kemarin sedikit tertunda, sekitar 30 menit.
Perjalanan relatif lancar, sampai kami tiba di Stasiun Cirebon Prujakan. Kami sempat terhenti beberapa jam di sini dalam keadaan listrik mati.
Gerah, bosan, dan tak ada teman mengobrol, mendorongku untuk mencoba mencari penjelasan pada petugas kereta. Caranya? Aku kirimkan sms ke “Costumer Service on Train” yang foto dan kontaknya biasa dipajang di tiap gerbong. Selain untuk mencari kejelasan, juga pengen menguji apakah adanya petugas ini berdampak baik pada layanan KAI.
Daaaan… sms saya dibalas. Dibalas dengan baik, bukan pesan balasan default. Saya diberi penjelasan mengenai perbaikan yang sedang berjalan.
Tak lama kemudian, listrik menyala kembali dan perjalanan dilanjutkan. Saya pun mengucapkan terima kasih, membalas sms petugas sebelumnya. Tak hanya sampai situ, kami juga diberi pengumuman adanya kompensasi akibat gangguan barusan.
Alhamdulillah…
Kami sebagai pemberi layanan (yang juga sama-sama di bidang jasa, sama seperti KAI) harus banyak belajar. Belajar bagaimana memberi pelayanan terbaik, bahkan dalam keadaan terburuk.
Terima kasih, Pak Ilman (CSoT) dan PTKAI. Semoga berkah, semoga lancar perjalanan.
Sekian sharing kali ini. Assalamu’alaikum 🙂

Bapak Tani

Assalamu’alaikum
Hari ini, Kamis, 5 Mei 2016, aku dalam perjalanan pulang ke desaku dengan kereta. Aku naik kereta Gaya Baru Malam. Kereta ekonomi murah dengan fasilitas pas-pasan dan bahkan tempat selonjor yang pas-pasan pula 😀
Kereta ini berangkat pukul 10.30 dari Pasar Senen, jadi aku masih bisa menikmati pemandangan di luar. Lewat dari daerah Bekasi dan Karawang, pemandangan didominasi dengan areal persawahan. Awalnya hanya padi yang terlihat, makin ke timur makin bervariasi. Ada bawang merah, kacang-kacangan, tebu. Awalnya hanya tanah persawahan terhampar, makin ke timur makin berbukit dengan latar belakang pegunungan. MasyaAllah…
Sempat terbersit di pikiran, betapa bersahaja seorang petani. Teringat kakek nenek di kampung. Mereka petani dengan 8 orang anak. Semua sukses, alhamdulillah, semua sekolah. Kakek dan nenekku tak pernah pusing-pusing memikirkan si ini yang lebih kaya, si itu yang kerja kantoran. Kakek dan nenek selalu bekerja dengan sebaik kemampuan mereka, sebaik yang mereka bisa hasilkan, untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga. Mungkin tidak mudah, mungkin jalan yang mereka lalui tidaklah mulus. Tapi apa yang mereka hasilkan, nilainya maksimal, semaksimal usaha mereka.
Ah.. Alangkah indah hidup seperti itu. Tak perlu iri dengan apa yang didapat orang lain. Lakukan saja yang terbaik, maka kau akan dapatkan yang terbaik pula.
Mbah, Dewi kangen.. Tunggu ya, insyaaAllah besok ketemu :’)

KA Gaya Baru Malam, Mei 2016