Depsos goes to Derawan – Perjalanan Menuju Pulau

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلْفُلْكِ ٱلَّتِى تَجْرِى فِى ٱلْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٍ فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ ٱلرِّيَٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلْمُسَخَّرِ بَيْنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” QS. Al-Baqarah [2] : 164

Sabtu, 6 Februari 2016

Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin

Setelah perencanaan panjang sejak bulan November 2015 lalu, akhirnya kami berenam, aku, Andre, Mustopa, Romadhini, Sam, dan Tony bisa berkumpul lagi. Awalnya kami hanya ingin mengunjungi Tony yang penempatan di Sampit, tapi berhubung Dhini juga penempatan di Kalimantan, jadi sekalian saja kami main. Tujuan perjalanan kami adalah Pulau Derawan.

Kami berenam berangkat dari tempat masing-masing hari Sabtu itu. Sam malah sudah sehari sebelumnya tiba di Balikpapan dari Manokwari. Aku, Andre, Mustopa, berangkat dari Jakarta, Dhini dari Samarinda, dan Tony dari Sampit. Rencananya kami (kecuali Tony) akan bertemu di Balikpapan dan naik pesawat yang sama menuju Berau, sedangkan Tony akan langsung ke Berau dengan pesawat yang berbeda.

Perjalanan berjalan cukup lancar. Aku, Andre, dan Mustopa sampai di Balikpapan dan bertemu Sam serta Dhini tepat waktu. Di Bandara Sepinggan kami dibuat kagum dengan kemegahan dan kebersihan tempat ini. Nyaman sekali di sini. Di pintu kedatangan, kami disambut oleh “penari Kalimantan” yang cantik jelita 😀 Suasana di ruang tunggu juga nyaman, rapi, dan bersih.

sambutan di pintu kedatangan Bandara Sepinggan, Balikpapan

Di sini kami bertemu Sam dan Dhini. Setelah cek in, kami duduk-duduk saja sambil menunggu keberangkatan pesawat. Kemudian Sam izin sebentar untuk beli cendera mata.

Ada kejadian lucu yang agak menyebalkan di sini. Saking asiknya mengobrol, kami tidak sadar kalau waktu sudah mendekati jadwal keberangkatan pesawat kami ke Berau. Gelisah menunggu karena Sam tak kunjung kembali, kami putuskan untuk menyusul. Ternyata dia sedang membeli kado untuk dibagikan (kami merencanakan ada sesi tukar kado). Lama sekali menunggu, akhirnya dia selesai juga. Khawatir ketinggalan pesawat, jadilah kami berlari menuju gate 11 di ujung Bandara. Eh, baru sampai gate 10 ada pengumuman bahwa pesawat yang kami tumpangi berangkat dari gate 7. Kami langsung berputar haluan. Sayang sekali, sampai di gate 7 kami ditolak oleh petugas karena nomor pesawat kami dijadwalkan berangkat dari gate 11. Kembali kami berlari ke gate 11. Dan ternyataaaaaa…..pesawat kami delay 😀 Baiklah, karena kami sudah terlalu lelah berlarian sepanjang ruang tunggu keberangkatan, kami duduk-duduk saja sambil mengisi baterai HP yang semakin menipis.

ruang tunggu Bandara Sepinggan, Balikpapan

ruang tunggu Bandara Sepinggan, Balikpapan

pesawat ke Berau

pesawat ke Berau

siap berangkat menuju Berau

siap berangkat menuju Berau

Akhirnya… setelah menunggu sekitar 30 menit lebih, ada juga pengumuman keberangkatan pesawat kami. Kami ke Berau naik pesawat kecil berbaling-baling, Wings Air. Target kami adalah… jangan sampai Tony tiba di Berau lebih dulu daripada kami 😀

Setelah sekitar 1,5 jam di udara, sampai juga kami di Bandara Kalimarau, Berau. Bandara ini tidak sebesar Bandara Sepinggan, tapi tetap rapi dan bersih. Terlihat pula rombongan turis yang sepertinya akan berlibur ke Derawan juga. Di pintu kedatangan, sebuah patung selamat datang menyambut kami.IMG_6053

Tak lama kemudian, driver dari agen perjalanan yang kami sewa menelepon, bilang kalau sudah siap di Berau. Wow, asik sekali ternyata berwisata dengan jasa agen, tak perlu repot-repot mencari taksi 😀

Sambil menunggu Tony, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di tempat makan yang ada di bandara. Mengingat perjalanan kami masih sekitar 3 jam lagi menuju Derawan, kami tak ingin nekat melanggar waktu makan siang meskipun rasa lapar hilang tertutup antusias.

Tony pun tiba dengan pakaian kebesarannya, BATIK 😉

Okee, saatnya berangkat!

Dari Berau, kami melanjutkan perjalanan selama sekitar 2,5 jam ke Dermaga Tanjung Batu. Meskipun badan lelah karena belum istirahat sejak berangkat dari Jakarta, pemandangan sepanjang perjalanan membuatku merasa rugi jika aku lewatkan dengan tidur. Lingkungan di sini masih asri. Berbagai jenis pohon dan tanaman kebun berjajar, sesekali terlihat pula berkas kebakaran hasil pembukaan lahan. Rumah-rumah penduduk sesekali terlihat, jarak antarrumah cukup jauh, tidak padat seperti di Jakarta. Terlihat penduduk di sekitar sini masih mempertahankan rumah kayu semi panggung sederhana. Sempat pula aku lihat tanah-tanah di pinggir jalan, berwarna putih kecoklatan seperti tanah di sekitar pantai. Padahal kami belum terlalu jauh meninggalkan Berau. Subhanallah, mudah saja bagi Allah menumbuhkan dan mematikan makhluk-Nya.

perjalanan menuju Tanjung Batu

perjalanan menuju Tanjung Batu

Setelah perjalanan panjang selama lebih dari 2 jam, melewati jalanan berlubang, berpapasan dengan kendaraan lain, hingga berganti jalan aspal mulus, sampailah kami ke Dermaga Tanjung Batu. Seakan tak ingin membuang waktu, driver kami langsung mengajak kami menaiki perahu yang sudah siap di dermaga. Fyi, kami tidak perlu menunggu lama karena memakai jasa agen, bila teman-teman hendak ke Derawan tanpa jasa agen, dari dermaga ini teman-teman harus menunggu perahu hingga penuh penumpang barulah bisa menyeberang. Dari sini, kami akan melintasi lautan menuju pulau. Kira-kira 30 menit waktu perjalanan yang diperlukan.

di Dermaga Tanjung Batu

di Dermaga Tanjung Batu

kira-kira seperti ini perahu yang kami tumpangi

kira-kira seperti ini perahu yang kami tumpangi

 

 

 

 

 

 

 

 

Sayang sekali, ketika kami ke sini ombak sedang tinggi. Meski begitu, alhamdulillah kami bisa mengarungi lautan dengan selamat. Ngantuk, lelah, letih, lesu, lemah, lunglai, semua hilang ketika kami sampai di Derawan. Inilah ciptaan Allah yang luar biasa indah, Pulau Derawan…

penginapan kami di Derawan

penginapan kami di Derawan

Pulau kecil yang indah, dengan pasirnya yang masih putih bersih dan pohon kelapa di mana-mana, langit biru tanpa polusi, penduduk sekitar yang cukup menyenangkan, masakan seafood yang enak, dan penyu yang menyapa tiap pagi di sekitar penginapan. Ini baru namanya libur dari kepenatan kota dan pekerjaan 😀

Di tulisan selanjutnya kita cerita-cerita tentang keliling ke 3 pulau di gugusan kepulauan Derawan: Sangalaki, Kakaban, Maratua.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s