Rindu

Tere Liye

Jakarta, Republika Penerbit, 2014

ii+544 halaman

 

“Apalah arti memiliki,

ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

Apalah arti kehilangan,

ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan,

dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?

Apalah arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah?

Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.”

 

Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.


Mengambil setting waktu tahun 1938, bang Tere menceritakan sebuah perjalanan agung. Perjalanan haji dari Indonesia dengan kapal Belanda. Perjalanan kerinduan, rindu pada indahnya kasih Sang Pencipta.

Kita diajak untuk membayangkan kondisi jamaah haji waktu itu. Penantian yang panjang untuk sembilan bulan perjalanan laut dan darat. Singgah di satu kota ke kota yang lain, ragam suku dan bahasa, sosialisasi selama perjalanan, menghadapi mesin kapal mati di tengah samudera, hingga mempertahankan kapal dari perompak. Namun dibalik itu semua, tokoh-tokoh utama mengambil perannya bercerita.

Ada lima kisah yang diceritakan selama perjalanan panjang ini. Lima kisah yang diuraikan lewat tanya.

“Aku seorang cabo, Gurutta. Apakah Allah… Apakah Allah akan menerimaku di Tanah Suci? Apakah perempuan hina sepertiku berhak menginjak Tanah Suci? Atau, cambuk menghantam punggungku, lututku terhujam ke bumi… Apakah Allah akan menerimaku? Atau, mengabaikan perempuan pendosa sepertiku… Membiarkan semua kenangan itu terus menghujam kepalaku. Membuatku bermimpi buruk setiap malam. Membuatku malu bertemu dengan siapa pun.”

“….Bagaimana mungkin aku pergi naik haji membawa kebencian sebesar ini? Apakah Tanah Suci akan terbuka bagi seorang anak yang membendi ayahnya sendiri? Bagaimana caranya agar semua ingatan itu enyah pergi? Aku sudah lelah dengan semua itu, Gurutta. Aku lelah dengan kebencian ini.”

“Kenapa harus terjadi sekarang, Gurutta? Kenapa harus ketika kami sudah sedikit lagi dari Tanah Suci. Kenapa hatus ada di atas lautan ini. Tidak bisakah ditunda barang satu-dua bulan? Atau, jika tidak bisa selama itu, bisakah ditunda hingga kami tiba di Tanah Suci, sempat bergandengan tangan melihat Masjidil Haram. Kenapa harus sekarang?”

“Aku kalah. Aku berlari sejauh mungkin dari kota kelahiran kami. Tiba di Makassar saat kapal ini sedang berlabuh. Bertemu dengan Kapten Phillips, dan sekarang inilah aku, seorang kelasi dapur. Inilah aku, Gurutta, lari dari seluruh kisah cintaku.”

Gurutta, kita tidak akan pernah bisa meraih kebebasan kita tanpa peperangan! Tidak bisa. Kita harus melawan. Dengan air mata dan darah!”

Lima kisah, lima pertanyaan, lima jawaban.

Dalam buku inilah kita temukan penjelasannya. Penjelasan yang mengantar mereka dalam perjalanan kerinduan. Rindu akan kasih ampunan-Nya, rindu akan kasih sayang-Nya, rindu akan kehadiran-Nya, rindu akan anugerah-Nya, rindu akan kekuatan yang Dia beri dalam menghadapi hidup.

Membaca buku ini membuatku sadar, bahwa sesungguhnya Allah tak pernah meninggalkan kita. Saat kita lalai, saat kita merasa jauh, saat itu bukan Allah mengabaikan kita. Sesungguhnya Allah menunggu kita. Hanya kita saja yang bebal, tidak sadar, atau menolak untuk menyadari, di depan kita ampunan dan kasih sayang Allah terbentang luas.

Selamat membaca, membangun Rindu 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s