Ketika Main Butuh Perjuangan – BPPK 2014

Assalamu’alaikum

Yey.. Akhirnya setelah sekian lama kami dipisahkan oleh kesibukan dan tempat magang masing-masing, kami bisa liburan bersama. Kali ini kami berencana main ke Taman Wisata Alam Muara Angke.

Belum ada sebelumnya diantara kami yang pernah pergi ke TWA. Berbekal tanya-tanya dan keberanian serta tekad yang kuat, kami memutuskan untuk pergi ke sana pada Kamis, 14 Mei 2015. Kami pergi berlima belas waktu itu, aku, Anas, Azmi, Faris, Fierda, Ganis, Husna, Fahmil, Nourma, Raditya, Resti, Enny, Sarah, Satria, dan Yusdi. Kami berangkat dari tempat yang berbeda. Sarah dan Fierda dari Bekasi, Yusdi dari Jatinegara, dan sisanya dari Pondok Ranji. Rencananya, kami akan bertemu di Stasiun Kota.

Dari informasi yang aku dapat dari adik kosan, TWA Muara Angke dapat ditempuh dengan naik kereta sampai Stasiun Kota, kemudian lanjut naik BKTB dari shelter Transjakarta Kota sampai sekolah Budha Tzu Chi. Agar tidak terlalu panas sesampainya di sana, kami memutuskan berangkat pukul 11.00 dari Pondok Ranji. Target kami, pukul 15.00 kami sudah tiba di TWA.

Laa haula wa laa quwwata illaa billah

Kereta jurusan Tanah Abang baru datang sekitar pukul 11.30. Dari Tanah Abang kami transit ke Manggarai, dan transit lagi ke Stasiun Kota. Sekitar pukul 12.30 kami baru sampai di sana.

Stasiun Kota

Perdebatan kemudian terjadi, tentang di manakah kita akan melaksanakan shalat Dzuhur. Sebagian mengusulkan di mushala stasiun (yang setelah dicek ternyata airnya tidak bersih), sebagian mengusulkan di mushala bawah tanah (yang setelah dilihat tidak cukup nyaman dan luas), dan pada akhirnya beberapa dari kami menawarkan Masjid Baitul Iman di Museum BI. Jadilah kami berlima belas wisata religi sejenak ke masjid ini. Selesai shalat Dzuhur, kami mengobrol sejenak sambil menikmati bekal seadanya yang kami bawa. Perjalanan kami lanjutkan ke shelter Transjakarta untuk menunggu BKTB ke kawasan Pantai Indah Kapuk.

Penantian Panjang

Lagi-lagi kami harus menghadapi kenyataan pahit suatu harapan yang semu. Satu jam sudah kami berada di shelter, sampai habis semua cerita dicurahkan, BKTB yang kami tunggu tak kunjung datang. Suasana semakin panas. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan voting, apakah perjalanan ini akan berlanjut ataukah berhenti di tengah jalan. Entah berapa hasil voting saat itu, tapi pada akhirnya kami sepakat untuk tetap pergi ke TWA dengan alternatif lain, yaitu menyewa angkot. Saat kami sedang asik menentukan langkah yang akan kami ambil, BKTB datang. Tapiiii…….wusss.. Belum sempat kami beranjak dari tempat duduk, pintu BKTB ditutup. Dia pun melenggang begitu saja, meninggalkan kami tanpa kepastian, dalam kekecewaan yang tiada tara. Lelah, lapar, kecewa, marah. Adzan Asar berkumandang dan kami pun memutuskan untuk kembali ke Masjid Baitul Iman. Barangkali di sana ada jawabnya..mengapa di tanahku terjadi bencana~

Naik Angkot

Percaya tidak percaya, kami berlima belas akhirnya menawar angkot untuk dapat disewa mengantar kami ke TWA. Dengan membayar Rp125.000,- kami bisa duduk (meski dengan tidak terlalu nyaman, terutama Fahmil) dan menikmati (?) perjalanan menuju TWA Muara Angke. Tidak sampai satu jam perjalanan, kami tiba di kawasan Pantai Indah Kapuk. Selesai? Belum.

Berhubung tidak ada satupun di antara kami yang mengetahui lokasi TWA ini, jadilah mas Raditya menjadi penunjuk jalan, dengan bertanya pada satpam kompleks.

“Pak, tau hutan bakau gak pak? Arah mana ya?”, begitu mungkin kira-kira kata mas Radit.

“Mau yang mana mas? Taman mangrove ini belok kanan, kalau agrowisata mangrove puter balik lagi”, begitu mungkin kira-kira jawaban pak satpam.

Mendengar penuturan mas Radit, angkot pun ramai dengan perdebatan akan kemanakah kami pergi. Setelah perdebatan sengit penuh otot, diputuskan kami memutar balik menuju agrowisata mangrove. Daaaan..sampai di sana. Kami tiba sekitar 16.30 dan kawasan wisata tutup pada 17.00

Tak ingin menyerah, kami putar arah lagi menuju taman mangrove yang tadi diinformasikan oleh pak satpam kompleks. Tak taunya, memang tempat inilah yang kami cari. Persis di depan kompleks sekolah Budha Tzu Chi, dekat sekali dengan tempat kami bertanya pada satpam tadi. Kami pun bergegas masuk, membayar tiket masuk sebesar Rp25.000,- untuk satu jam ke depan (TWA tutup pada 18.00), menitipkan kamera (di sini dilarang membawa kamera digital), dan mulai menyusuri kawasan Taman Wisata Alam Muara Angke ini.

Ada Apa?

Apa-apa adaaaa~ Kita bisa menikmati deretan tanaman bakau, mulai dari yang sedang disemai maupun yang sudah tua, Pantai Indah Kapuk (yang sebenarnya tidak terlalu bagus), deretan tempat makan dan tempat menginap, dan pasangan calon pengantin yang sedang mengambil foto prewedding. Yang pengen menyusuri laut, bisa menyewa perahu atau kano dengan biaya rata-rata per orang Rp100.000,-

Bagaimana perjalanan pulang?

Ya naik angkot lagi. Angkot yang sebelumnya juga. Mas Ganis dengan cerdas berinisiatif meminta nomor HP abang angkot ini.

Begitulah perjalanan kami. Semoga lain kali bisa liburan lagi.

Wassalamu’alaikum

^_^

 

PS: foto menyusul ya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s