Sungai di Pelupuk Mata (2)

Aku bagai kerbau yang dicongok hidungnya. Pasrah, diam, mengalah, meski sakit itu kian mendera. Tak ada tempat mengadu bagiku selain Tuhanku. Aku jauh dari orang tua, dikucilkan oleh lingkungan, sedang suamiku diam seribu bahasa, antara pasrah dan tidak peduli.

Di keheningan malam aku mengadu. Marah, kesal, benci, tertumpah semua dalam sujudku. Lalu Allah meraihku, memelukku, menghapus air mataku. Katanya, “jangan bersedih, aku bersamamu”.

Pelan, ku seka air mata di wajahku. Setelah mengucapkan terima kasih pada Sang Pengasih, aku beranjak dari sajadahku menuju kamar Lintang. Aku pandangi dia dalam tidurnya yang tenang. Aku kecup keningnya dan berbisik, “kamu tidak boleh terluka, sayang. Cukup ibu saja yang merasakannya.”


Fajar menyingsing. Puspita kembali ke rutinitas hariannya. Bangun pagi, shalat subuh, menjarang air, memasak nasi untuk sarapan suaminya, sambil menggendong Lintang yang berkali-kali membujuknya untuk bermain. Senin yang cerah. Sinar matahari membuat embun tak betah berlama-lama, tak juga air mata Puspita.

Pagi sekali, suami Puspita sudah bersiap untuk berangkat kerja. Setelah sarapan dan mencium Lintang, dia berangkat. Jangan harap kecupan mesra untuk Puspita, salam saja kadang lupa dia ucapkan. Tapi Puspita terlalu lelah untuk berharap, dia biarkan saja suaminya berangkat. Hari yang panjang pun dimulai.

Puspita memang ibu rumah tangga, tapi jangan bilang dia tidak bekerja. Membereskan rumah, memasak untuk mertua dan anaknya, mencuci baju, mengasuh Lintang, ada saja yang dia kerjakan sehari-hari di rumah. Kadang di waktu senggang, dia menyempatkan diri bermain dengan Lintang. Bercerita, bermain masak-masakan, main boneka, apa saja yang membuat Lintang tertawa. Lain waktu saat Lintang sudah tertidur, dia menghabiskan waktu dengan menjahit atau membuat hiasan rumah. Apapun dia kerjakan. Baginya, waktu luang seumpama anak panah, yang siap meluncur kapan saja saat lengah. Dan dia harus sangat berhati-hati jika tidak ingin terluka untuk ke sekian kalinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s