Tabligh Akbar Maulid Nabi Muhammad Saw

Tema: “Meneladani Akhlaq Rasulullah Saw dalam Rangka Membangun SDM yang Amanah sebagai Modal Utama Melaksanakan Transformasi Kelembagaan di Lingkungan Kementerian Keuangan.”

Pembicara: Ustadz Fikri Haykal MZ

Rabu, 28 Januari 2015 – 7 Rabiul Akhir 1536H


Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Dan yang demikian itu menambah keimanan dan keislaman mereka. (QS Al Ahzab: 21-22)

Setiap tahun, kita senantiasa memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. Peringatan ini hendaknya dapat memicu kita untuk dapat meneladani akhlaq Rasulullah. Meneladani beliau merupakan wujud cinta kita padanya. Ingat, beliau begitu mencintai kita, umatnya, bahkan meski kita belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Apa bukti cinta beliau?

1)

Allah Swt sangat mencintai Rasulullah. Allah mempersilakan Rasulullah untuk meminta apapun yang dapat membuat hatinya puas dan Allah berjanji akan mengabulkannya. Rasulullah saat itu menjawab bahwa pangkat, harta, dan apapun, tidak akan membuat hatinya puas selama masih ada kaum muslim yang masuk neraka.

“Diperlihatkan kepadaku kemenangan-kemenangan yang akan diperoleh umatku sesudah aku (meninggal), sehingga aku pun merasa sangat gembira.” (HR Ath Thabrani)

Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas. (QS Adh Dhuha:5)

2)

Ketika Rasulullah telah mendekati ajalnya, beliau bertanya pada malaikat Jibril tentang karamah yang akan beliau dapatkan. Malaikat Jibril menjawab bahwa pintu surga telah dibukakan untuk Rasulullah dan para malaikat telah berbaris di depan pintu langit untuk menyambut kedatangannya. Setelah memuji Allah, Rasulullah bertanya apakah yang akan didapatkan oleh umatnya? Kemudian malaikat Jibril menjawab bahwa Allah mengharamkan surga bagi umat-umat yang lain sebelum seluruh umat Nabi Muhammad Saw memasukinya. Setelah mendengar jawaban itu, Rasulullah menyatakan siap dicabut nyawanya.

3)

 Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Rasulullah meninggalkan tiga pesan:

  1. Ash shalah.. dirikanlah shalat
  2. An nisa’ ittaqun nisa’.. wanita, hormati, lindungi, jaga kaum wanita
  3. Ummati.. ummatku

Begitu dalamnya cinta Rasulullah pada kita, hingga pada akhir hayatnya pun kita, umatnya masih beliau sebut-sebut.

Shalat, dalam pesan Rasulullah, mencakup seluruh ibadah. Namun sayangnya masih banyak dari kita yang melakukan ibadah hanya untuk menggugurkan kewajiban, terjebak pada ritual atau kebiasaan, hingga tidak ada dampak positifnya bagi diri kita. Padahal sesungguhnya ibadah-ibadah yang kita lakukan bukanlah untuk Allah. Kita tidak beribadah sekalipun, tak akan mengubah kedudukan Allah Yang Maha Kuasa, yang merugi adalah diri kita sendiri. Ibadah ini termasuk pula dalam menjalankan amanat sebagai abdi negara.

Wanita, perhiasan dunia, patut untuk dijaga dan dilindungi. Islam sangat menghormati wanita. Namun sayangya, hal ini justru memicu emansipasi yang kebablasan sehingga justru menjatuhkan martabat wanita itu sendiri.

4)

Rasulullah sangat mencintai umatnya, bahkan hingga kiamat tiba. Ketika malaikat Jibril dan Mikail menjemput Rasulullah, beliau tetap menanyakan umatnya.

 

Rasa cinta Rasulullah kepada kita hendaknya membuat kita semakin cinta pada Rasulullah dan meneladani sifat beliau. Rasulullah dalam berdakwah selalu mengamalkan terlebih dahulu sebelum memerintahkan atau memberitahukan kepada sahabat-sahabatnya. Rasulullah juga selalu sungguh-sungguh dalam beribadah, padahal telah dijamin dengan ampunan dari Allah dari segala dosa.

Sebagai seorang abdi negara, kita hendaknya mencontoh Rasulullah. Melaksanakan peraturan mulai dari diri sendiri dan selalu bersungguh-sungguh dalam bekerja sekaligus beribadah kepada Allah.

Urusan agama, lihat ke atas. Lihatlah orang-orang di sekitar kita yang bersungguh-sungguh dalam beribadah, rajin, istiqamah, dan jadikan itu semua sebagai motivasi untuk beribadah dengan lebih baik lagi.

Urusan dunia, lihatlah ke bawah. Dalam segala keterbatasan yang kita miliki, masih banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung. Maka dengan demikian, kita akan belajar bersyukur dan menerima keadaan kita dengan hati yang lapang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s