Sungai di Pelupuk Mata (1)

Brakk..!!
Lagi, untuk ketiga kalinya hari ini, Puspita membanting pintu. Kasak-kusuk tetangga di serambi rumah sebelah masih terdengar. Beberapa ibu berkumpul menikmati secangkir teh panas ditemani kacang rebus dan …gosip. Rumah sudah dibersihkan, makanan untuk anak dan suami telah masak, urusan di ladang pun telah selesai. Hanya gosip yang masih belum puas mereka obrolkan sore itu.
Di dalam kamarnya, Puspita hanya menangis. Apa lagi yang bisa dia lakukan? Bahkan suaminya pun tak punya daya menghadapi cercaan tetangga. Dengan mata sembab ditatapnya Lintang, putri semata wayangnya. Mata kecil Lintang terlihat sedih sekaligus tak mengerti melihat ibunya yang tiba-tiba datang dengan sungai yang mengalir deras di pelupuk matanya.
Gontai, Puspita menghampiri Lintang. Dengan tangis yang masih bercucuran, dia peluk bocah kecil yang baru berusia dua tahun itu. “Maafkan ibu, nak”, katanya dalam hati.
“Ibu kenapa?”, tanya Lintang menahan tangis.
“Tidak apa-apa, nak. Kamu belum mandi kan? Ibu mandiin yuk”, dengan senyum yang dipaksakan, Puspita menggandeng Lintang ke kamar mandi. “Aku harus tegar, aku harus kuat, harus.. demi Lintang

-***-

Beberapa jam sebelumnya…
“Bu, Puspita ke warung dulu ya. Mau beli minyak.”
Ibu mertuanya hanya memandangnya datar, tak ada jawaban apa-apa dari mulutnya. Di sampingnya, Lintang sedang asik bermain dengan kardus-kardus bekas. Tanpa menunggu jawaban apapun—yang biasanya juga tak pernah ada—Puspita pergi ke warung.
Dari jalan dilihatnya warung sedang ramai. Beberapa orang ibu berkumpul sambil cekikikan membicaran sesuatu. “Ah, mereka lagi. Mau ngomongin apa lagi sekarang.”. Puspita menarik nafas panjang, berharap kekuatannya bertambah dengan menghirup lebih banyak udara. Berat, dilangkahkan kakinya menuju warung.
“Selamat sore, ibu-ibu.”, Puspita menyapa mereka, memaksakan senyum yang sebenarnya berat dilakukan.
Tak ada salam, tak ada anggukan, hening, hanya lirikan yang Puspita dapat. Satu per satu mereka bubar, meninggalkan Puspita sendirian diliputi rasa sedih sekaligus kesal. “Begini rupanya rasanya jadi pendatang yang tak dikehendaki”, fikirnya.
Setelah membeli beberapa kebutuhan dapur, Puspita segera pulang. Dia tak bisa meninggalkan Lintang terlalu lama berdua dengan ibu mertuanya. Dia tau ibu mertuanya cukup baik pada Lintang meski tidak dengannya. Namun khawatir itu tetap ada.
Di perjalanan pulang, dilihatnya ibu-ibu yang sebelumnya berkumpul di warung sedang mengobrol sambil minum teh di beranda rumah Bu Candra. Penasaran, sambil berjalan, Puspita memasang telinga baik-baik, menangkap obrolan ibu-ibu. “Siapa tau yang sedang dibicarakan itu aku”, fikirnya.
“Eh, katanya si Puspita itu minta duit lagi ya sama mertuanya? Dasar gak tau diuntung, udah numpang, morotin pula. Dasar cewek kampung.”
“Iya, bu. Kabarnya malah kambing mertuanya dia jual. Memang dasar dia. Wajah saja cantik, hatinya picik.”
“Eh..ssttt.. Pelan-pelan, tuh dia lewat.”
Panas merayapi tubuh Puspita. Kata-kata yang didengarnya sungguh melukai perasaan. Setengah berlari, ditinggalkannya ibu-ibu yang masih berbisik itu dan segera ke rumah, masuk ke kamarnya.
Brakk..!!

Bersambung….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s