Surga yang tak Dirindukan-Ulasan

img1564-1403348395

 

 

 

 

 

Surga yang tak Dirindukan

Asma Nadia

Asma Nadia Publishing House, 2014

 

Apa artinya rumah jika tak lagi menjadi pelabuhan yang ramah bagi hati seorang suami? Apa jadinya surga jika ia tak lagi dirindukan? Benarkah dongeng seorang perempuan harus mati agar dongeng perempuan lain mendapatkan kehidupan?

Ah. Surga yang retak-retak.

Peristiwa tragis dan e-mail aneh dari gadis bernama Bulan.

Pertanyaan yang terus mendera: “Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak cukup membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?”

Sementara seseorang berjuang melawan Tuhan, waktu dengan sabar menyusun keping-keping puzzle kehidupan yang terserak, lewat skenario yang rumit namun menakjubkan.


Kisah luar biasa yang diceritakan oleh bunda Asma Nadia dengan sangat rapi, sabar, dan tentunya menarik.

Arini, seorang lulusan IPB, perempuan shalehah yang hidupnya diwarnai dongeng-dongeng tentang putri, pangerang, dan istana indah. Dongeng-dongeng itu mengantarkannya pada pangeran idamannya, kawan masa kecil yang tak dia duga akan dia temui di kampus. Pangeran tampan nan romantis, yang mencintai Arini dengan cinta yang melimpah dan santun, Andika Prasetya.

Pras memang bukan pangeran dari negeri mana pun. Namun, berada di dekatnya, dongeng dan impian romantis Arini seakan menemukan bentuk. Gadis itu bahkan yakin dia telah dekat pada kebahagiaan putri-putri dongeng, saat akhirnya bertemu sang pangeran. Sebab bersamanya, keajaiban-keajaiban kecil tercipta. Tahu-tahu Arini sudah berada dalam istana kaca yang indah dan memberinya rasa aman.

Andika Prasetya, seorang dosen di IPB, lelaki shaleh dengan pribadi menyenangkan dan tegas dalam prinsip. Baginya, cinta bukan untuk diumbar, tapi dijaga agar tetap suci hingga ia menemukan tambatan hati.

Pras tidak mau istrinya menjadi perempuan kesekian yang dicintainya. Berapa banyak rumah tangga yang goyah, gara-gara sang suami bertemu kembali dengan cinta pertamanya dulu? Perempuannya tidak boleh mengalami itu.

Prinsip pula yang membuatnya tegas menolak konsep poligami. Apapun alasan yang disodorkan teman-temannya yang beristri lagi, tak menggoyahkan hatinya untuk bertahan hanya mencintai Arini. Bayangan tentang adik tiri yang diajak bapaknya dulu dan luka ibu yang diduakan, seakan menjadi cambuk bagi Pras untuk selalu menjaga kesetiaan. Sampai pada suatu ketika….

Semua bermula dari kecelakaan lalu lintas. Sedan hijau metalik dalam kecepatan penuh melompat hingga menabrak bahu jalan. Benturan yang melontarkan tubuh penumpangnya. Gadis dalam kebaya pengantin putih yang kini penuh darah.

Namanya Mei Rose. Seorang gadis keturunan yang meski tangguh, rajin, dan dapat dipercaya, bukanlah gadis cantik yang membuat laki-laki tertarik memandangnya. Kehidupan yang keras membuatnya tak percaya lagi adanya Tuhan. Perlakuan keras A-ie—bibinya, pemerkosaan yang ia alami saat karirnya melambung, janin yang tumbuh saat ia mulai menemukan cinta, hingga ditipu dan dipermalukan di depan rekan-rekan sekantor. Baginya, seakan Tuhan tidak adil. Hanya pahit yang terus menerus ia rasakan dalam lika-liku perjalanan hidupnya.

Kecelakaan itu mempertemukannya pada Pras. Sosok yang menyelamatkan ia dan bayi dalam kandungannya dari kematian. Pras pula yang membuat pandangannya tentang laki-laki menjadi berubah. Cinta pun bersemi, disusul rasa ingin memiliki…

Jika padamu tak kutemukan cinta, kepada siapa kubawakan bunga

Berawal dari kesediaan Pras membimbing Mei Rose menjadi seorang muslimah dan kepeduliannya pada bayi mungil itu, dia pun tergoda. Pras memutuskan untuk menikah lagi. Namun cinta membuatnya tak berdaya untuk jujur pada sang istri, Arini.

Sampai di sini, Asma Nadia sukses membuat hati kita sesak oleh emosi ketiga tokoh yang dihadirkannya. Tapi di akhir bukunya, mari kita alihkan perhatian pada emosi dan pesan yang disampaikan lewat ibunda Arini.

Ingat, Rin, anak-anak adalah mata air yang meneduhkan luka setiap perempuan. Tatap mata-mata bening mereka. Rasakan tawa dan kebahagiaan mereka. Maka setiap luka menjadi tak berarti.”

Naluri keibuan dan cintanya yang tulus pada anak-anaknya, membuat ibunda Arini memilih untuk bertahan. Dia bangun benteng kokoh sebagai pertahanan hatinya yang rapuh, sekaligus untuk melindungi hati dan memori anak-anaknya. Benteng itu pula yang membuat memori Arini dan kakaknya tetap indah dan cinta mereka tak berkurang untuk sang Bapak. Bayangkan apabila sakit hati ibunda Arini dia tularkan kepada anak-anaknya, bagaimanakah masa depan mereka kelak?

Inilah pelajaran berharga bagi para istri. Ibunda Arini memang bukan tokoh utama dalam buku ini, tetapi kehadirannya mampu memberi obat bagi sakit hati karena persepsi tentang poligami.

Hati perempuan memang rapuh dan hati laki-laki memang gampang tergoda. Jika laki-laki bisa bertahan dengan seorang wanita, mungkin Allah tak akan mewahyukan ayat tentang poligami.

Untuk para istri dan calon istri, bangun benteng yang kokoh untuk melindungi hati kita yang rapuh ini. Semoga kita dikaruniai pasangan hidup yang meski hatinya mudah tergoda, tetap memilih untuk setia. Luka memang selalu menyakitkan, tapi luka sejatinya juga bisa menguatkan.

Selamat membaca 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s