Menikah?

Bismillahirrahmannirrahim

Kusampaikan kabar pada gundah

Tentang hati yang bertanya resah

Akankah semua berakhir indah

Ini tentang sahabatku. Kawan yang sudah lama tak kutemui. Pertama melihatnya hari kemarin, hanya kebahagiaan yang tampak. Bahagia, hanya itu, tak ada yang lain.

Kami teman sekelas waktu SMA. Perbedaan agama tidak mencegah jalinan pertemanan kami. Sejak dulu kami akrab, mungkin karena persamaan. Sama-sama menyukai hidup yang bebas, dan sayangnya sama-sama tersesat. Jaman SMA ada masa jahiliyyah kami. Masa di mana kami berjalan tanpa lentera, tanpa peralatan, kemudian tersesat dan jatuh ke dalam jurang.

Lulus SMA, kami dipertemukan kembali. Kali ini tidak sekelas, tapi masih satu kampus, beda jurusan. Persahabatan kami masih berlanjut, mengingat tidak banyak teman sekelas yang masuk ke kampus ini. Saat itu duniaku tak sepenuhnya gelap, aku sudah menemukan lilin.

Dia? Entahlah…

Meskipun kami akrab, dia bukan tipe orang yang bisa bicara blak-blakan sepertiku. Sedekat apapun kami, tak pernah bisa aku pahami bagaimana sikap dan pemikirannya. Bahkan aku sempat khawatir dia tak menemukan pelita.

Lama waktu berselang, kesibukan kami pun bertambah. Kami makin jarang berinteraksi. Aku masih tetap menjaga lilinku tetap menyala, meskipun batangnya kian hari kian habis dan harus diganti dengan yang baru.

Dia? Entahlah…

Bukan hak diriku untuk menghakimi isi hati. Bukan pula hak diriku untuk menggurui. Namun cinta-Nya menuntunku, aku harus mendoakan dia!

Kemudian hal mengejutkan datang dari dirinya. Dia tiba-tiba memutuskan untuk menikah. Ya, menikah. Salahkah bila hatiku bertanya, pelita apa yang akan dia pakai untuk menerangi istana yang dia bangun?

Allah, lindungi kami dari prasangka…

Tak dinyana tak diduga, dia melangsungkan akad secara Islam. Istrinya adalah seorang muslimah, anak kecamatan sebelah. Kami tidak saling mengenal. Meski begitu, terucap syukur dalam hati “Allah, cintai mereka”.

Namun, hal mengejutkan lagi-lagi datang dari dirinya. Ini ketika dia berkunjung ke rumahku, sore kemarin. Bahagia memang terpancar di matanya, di senyumnya, dibalut dalam keceriaannya. Namun pelita yang aku cari, tak tergapai oleh nurani. Hatiku berkata “dia belum siap”.

Menjadi seorang muallaf yang memutuskan untuk menikah dini dan menjadi imam bagi keluarga, tanpa bekal pengetahuan agama yang cukup, pastilah sangat berat. Sempat hati ini khawatir, akankah dia mampu menjaga syahadat dan akadnya?

Plak!!

Hatiku tersentak. Sepertinya bukan itu yang ingin Allah perlihatkan padaku (dan engkau yang kebetulan sedang di sini). Ini semua bukan tentang sahabatku, tapi tentang aku. Keadaan sahabatku membuatku berkaca, sudah siapkah diri ini?

Menikah bukan hanya tentang menikahi lelaki yang meminangmu, menikahi keluarganya, menikahi hartanya, dan menikahi sifat-sifatnya, tapi juga menikahi umurnya. Ditambah kesiapan untuk berbagi hati, jika suami mencintai wanita lain. (Surga yang tak Dirindukan-Asma Nadia)

Siapkah aku untuk menjaga syahadatku? Sudahkah aku menjadi muslimah yang baik? Siapkah aku menjadi istri? Siapkah menjadi ibu? Siap mengingatkan dan bersabar saat suami berbuat salah? Siapkah menjadi madrasah pertama bagi anak-anak? Siapkah…?

Menikah tak pernah menunggu siap. Menikah itu cuma butuh nekat. Karena menyiapkan pernikahan itu tak akan pernah ada habisnya. (dari seorang sahabat)

Mungkin benar kata-kata itu. Mungkin itu pula yang membuat dia memutuskan untuk segera menikah dalam kondisinya sebagai muallaf. Karena dia menikah bukan karena dia siap, tapi dia bersiap karena dia sudah menikah. Menikah membuatnya belajar, menikah membuatnya berjuang, menikah membuatnya bersabar, dan dalam pernikahan pula dia menemukan lentera yang selama ini dia cari.

Mungkin aku yang salah, dia telah berubah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s