Aku Bukan Pemulung

Untuk adik-adikku yang aku cintai

Tahukah kalian, sayang, lapak pemulung itu ada banyaaaaaak sekali di negara ini. Sama seperti di tempat kalian, dengan dinding dan atap seadanya, lingkungan yang kotor penuh sampah dan gerobak-gerobak di depan rumah. Di daerah yang jauh sekali dari kota kecil kita ini juga ada lapak pemulung. Di tempat itu tinggallah Nur dan keluarganya. Sama seperti sebagian besar dari kalian, orang tua Nur ini juga mencari nafkah dengan mengumpulkan barang-barang bekas. Namun dia tidak seperti anak-anak lain, dia berhasil menjadi seorang guru yang cerdas di kota. Dia bahkan mempunyai rumah gedung yang sederhana di pusat kota. Kok bisa ya? ๐Ÿ™‚

Tak ada yang spesial dari dia, sayang. Sejak kecil dia sudah tinggal bersama keluarganya di lapak itu. Ketika masih kecil, tiap pagi dia hanya bermain di rumah atau di lapangan dengan teman-temannya. Pada sore hari, dia menemani ibunya memberesi sampah dan barang-barang bekas yang didapat ayahnya. Hingga pada suatu sore ketika dia sedang bermain petak umpet di lapangan saat usianya enam tahun, dia mulai menyadari kalau teman bermainnya tak sebanyak dulu lagi. Ketika dia bertanya pada salah seorang temannya, temannya ini menjawab kalau mereka sedang sekolah. Nur bingung. Sekolah? Apa itu sekolah? Akhirnya, Nur dan beberapa orang temannya pergi ke sekolah di dekat rumah mereka.

Sampai di sana Nur heran sekali melihat anak-anak seusia dia belajar membaca huruf-huruf di papan tulis. Kagum sekali Nur melihatnya. Dalam hati dia berkata, “Aku ingin sekolah seperti mereka.” Sampai di rumah, Nur bilang sama orang tuanya. Wah, ternyata orang tuanya langsung marah. Kata mereka, “Sekolah? Buat apa kamu sekolah? Sekolah pake apa? Baju aja gak punya mau sekolah segala. Bodoh kamu!” Mendengar jawaban orangtuanya, Nur menangis. Dia sedih tidak bisa bersekolah.

Sayang, kasihan ya Nur. Dia tidak bisa bersekolah seperti kalian. Pasti sedih rasanya tidak bisa membaca, tidak bisa berhitung, tidak mengerti ilmu pengetahuan yang saat ini kita rasakan. Yang dia tahu hanya bagaimana cara membersihkan barang-barang bekas hasil kerja ayahnya.

Hingga ketika umurnya menginjak 10 tahun, dia tak tahan lagi. Dia kabur dari rumahnya. Dia pergi ke kota, berharap ada sekolah yang mau menerimanya tanpa biaya. Luntang lantung tak jelas di jalan, makan dari belas kasihan orang lain, tidur di emper masjid, menyedihkan sekali keadaannya waktu itu. Hingga pada suatu hari, ada seorang kakak yang menghampirinya, namanya Asih. Kak Asih ini sama seperti kakak dan kak Didit, dia mahasiswa juga. Diajaklah Nur mengobrol oleh kak Asih. Ngalor, ngidul, ngetan, ngulon, sampai akhirnya Nur cerita kalau dia kabur dari rumah karena tidak diperbolehkan sekolah oleh orang tuanya. Wah, kebetulan sekali kak Asih ini punya rumah singgah juga. Sama kaya punya kita. Diajaklah Nur ke rumah singgah dan diajari banyak hal, mulai dari membaca, berhitung, sampai IPA dan IPS. Pokoknya semua pelajaran SD diajarkan.

Setiap hari Nur belajar dengan semangat. Karena semangatnya inilah kak Asih dan kakak-kakak yang lain memutuskan untuk mendaftarkan Nur di ujian kejar paket. Ternyata Nur lulus dengan nilai memuaskan. Kak Asih kemudian mengusahakan agar Nur bisa melanjutkan ke SMP Negeri. Begitulah selanjutnya, Nur terus belajar dengan rajin dan mendapat beasiswa sampai lulus SMA. Meski sudah mendapat beasiswa, Nur tetap belajar untuk mandiri. Pekerjaan sambilan dia kerjakan. Jadi tukang cuci piring, penjaga toko, mengasuh anak, pokoknya asalkan itu halal dan tidak mengganggu sekolahnya, dia jalani. Bahkan ketika dia lulus SMA, saking pinternya dia, dia langsung ditawari bekerja di sebuah bimbingan belajar sebagai tentor. Keren ya ๐Ÿ™‚

Sejak saat itu, hidup Nur berubah. Dia bukan lagi pemulung kecil yang hidup serba kekurangan. Sambil mengajar di bimbel itu, Nur melanjutkan kuliah di bidang pendidikan. Masih sering berkunjung ke rumah singgah tempat dia belajar dan tinggal selama ini, ikut berbagi dengan adik-adik didik yang lain, mengajari dan memotivasi mereka untuk lebih maju. Setelah selesai kuliah, dia melamar kerja sebagai seorang guru SMA di ibukota. Dia membangun kehidupan baru yang lebih baik di sana. Bahkan dia berhasil membeli sebuah rumah yang sederhana untuk tempat tinggalnya. Dia juga membuka kelas bermain dan mendongeng di sana tiap hari minggu, meneruskan semangat berbagi yang diajarkan kak Asih dan kakak-kakak relawan lain di rumah singgah.

Kemudian tiba-tiba suatu hari dia ingat orang tuanya. Ah, sudah 15 tahun sejak dia meninggalkan rumah. Seperti apa kabar mereka ya? Nur kemudian memutuskan untuk berkunjung ke lapaknya dulu, ingin mengajak orang tuanya tinggal bersama dia di kota. Nur bisa membelikan kios kecil untuk mereka berjualan. Sepertinya akan menyenangkan ๐Ÿ™‚

Sampai di lapaknya, Nur disambut dengan penuh heran dan haru dari orang tuanya. Anaknya yang dulu lusuh, kurus, kumal, sekarang menjadi seorang wanita yang cantik dengan kerudung warna lembut menutup kepala hingga bahunya. Nur kemudian mengajak mereka tinggal di ibukota. Merangkai hari-hari baru yang lebih baik di sana. Kalian tahu, sayang? Mereka bukan lagi keluarga pemulung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s