Langkah Pertama

Assalamu’alaikum, saudaraku ๐Ÿ™‚

Teman-temanku di media sosial mungkin pernah membaca statusku mengenai langkah pertama. Ya, cukup berani mengambil langkah pertama untuk melakukan langkah-langkah selanjutnya. Begitu pula yang aku lakukan minggu ini.

Sejak kembali ke Bintaro, tempatku kuliah, aku sudah berjanji pada adikku untuk melihatnya perform di acara sekolahnya. Namun kemudian ada begitu banyak kegiatan yang memerlukan perhatianku, baik akademis maupun organisasi. Alhamdulillah semua bisa diatasi. Kemudian timbul masalah baru. Kondisi keuanganku tidak memungkinkan untuk pulang dengan naik bus. Satu-satunya transportasi yang terjangkau adalah kereta ekonomi. Padahal aku belum pernah pulang sendiri naik kereta ekonomi. Pulang naik kereta saja baru sekali dengan rombongan teman-teman kuliah. Tapi aku pikir tak ada salahnya mencoba, toh sekarang kereta ekonomi sudah tidak sesesak dulu.

Akhirnya tiket aku beli, tugas aku selesaikan, aku berangkat tanggal 27 September. Perjalanan yang cukup menyenangkan serta penuh syukur.

Aku berangkat dari kos sekitar pukul 16.30 berjalan kaki ke jalan raya untuk naik angkot ke stasiun terdekat, Pondok Ranji. Tak diduga ternyata aku bertemu Sam di jalan. Dia langsung menawarkan tumpangan ke Pondok Ranji–syukur pertama.

Sesampainya di Pondok Ranji ternyata kereta ke Tanah Abang sudah dekat, akupun langsung membeli tiket dan menunggu sekitar 5 menit saja–syukur kedua.

Di Tanah Abang aku mulai bingung, mau ke mana dan ngapain ini. Masih ada waktu sekitar 2 jam sebelum keretaku berangkat. Akhirnya aku putuskan untuk menunggu di mushola. Seperti yang dedekku pernah bilang, terkadang kita perlu waktu untuk melepaskan diri sejenak dari rutinitas, pergi sendirian ke suatu tempat, melihat orang-orang di sekitar, dan memikirkan serta tidak memikirkan banyak hal, begitu pula aku saat itu. Asik sekali melihat orang-orang di stasiun. Ada yang sibuk berlarian mengejar kereta, duduk-duduk menunggu, berjualan, menjaga sepatu, dan banyak lagi. Tak terasa waktu Magrib tiba. Mushola penuh sesak dengan orang-orang yang hendak shalat. Pemandangan yang selalu mengharukan bagiku, di mana orang-orang masih berusaha shalat tepat waktu di tengah kesibukan mereka. Selesai shalat ternyata sudah banyak yang menunggu di depan mushola. Subhanallah, pemandangan yang menyenangkan. Aku serta rombongan shalat yang lain keluar, memberi kesempatan shalat bagi rombongan berikutnya.

Kembali bingung, akhirnya aku putuskan untuk makan. Kebetulan kepingin ketupat sayur. Selesai makan, masih ada waktu setengah jam sebelum masuk Isya. Akupun kembali ke mushola. Namun ternyata mushola masih penuh dengan jamaah shalat Magrib entah kloter ke berapa. Malas berkeliling, aku meminta izin pada penjaga sepatu untuk ikut menunggu bersama mereka. Setengah jam berikutnya aku sudah asik melihat mereka sibuk melayani jamaah yang menitipkan sandal, sepatu, maupun tasnya. Mereka orang-orang yang jujur dan menyenangkan. Kemudian teringat seseorang yang memilih shalat Subuh di kereta dan tidak mengulangnya sesampainya di stasiun ini hanya karena mengkhawatirkan kopernya.

Selesai shalat Isya, aku turun untuk mencari tempat duduk di kereta. Sempat salah nomor tempat duduk juga ๐Ÿ˜›

Tahukah kalian, saudaraku? Menikmati perjalanan seorang diri itu menyenangkan karena saat itulah kita bisa dengan cukup mudah merasakan kehadiran dan campur tangan Allah di sekitar kita.

Perjalanan ini cukup menyenangkan. Aku duduk dengan seorang bapak dan seorang bule. Setelah tidur sebentar, aku memberanikan diri mengajak si bule mengobrol, mendengarkan cerita dan petuahnya tentang kepedulian serta betapa asiknya ekonomi, tentang para CPA, tentang kekonyolan dia ketinggalan pesawat, bicara mengenai bahaya dan mahalnya botol plastik (padahal yang dia minum adalah bir berbotol kaca yang jelas-jelas lebih mahal dan lebih bahaya). Tak lama kemudian dia mengantuk, akupun berganti mengobrol dengan bapak di sampingku, kali ini dengan bahasa Jawa yang jauh lebih aku kuasai. Capek, kamipun kembali melanjutkan istirahat.

Aku sampai di stasiun Lempuyangan sekitar pukul 5.45 dan menunggu jemputan dari Pampam momo, teman baikku sejak SMP–syukur ke…sekian lah ๐Ÿ˜€

Sepanjang perjalanan pulang naik bus jurusan Wonosari-Jogja, aku asik mengenang saat-saat aku naik bus bolak-balik dari rumah ke Giwangan untuk ikut pelatihan tari, mengenang masa-masa SMP, mengenang teman-teman. Daaan, sampailah aku di rumah, berhasil memberi kejutan kepada ibunda tercinta, melepas penat, melepas beban, mengisi kembali kekuatan untuk menyelesaikan tugas.

Betapa beruntungnya aku ๐Ÿ™‚

 

Wassalam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s