Bus Bahagia

10 Agustus 2012

Kalau ada yang lebih membahagiakan dari sebuah permen lolipop bagi anak kecil atau beberapa lembar uang kertas warna biru bagi anak yang agak besar sepertiku, ialah kehangatan sebuah keluarga.

Hari ini aku sudah separuh perjalanan menuju rumah dari Bumi Bintaro tempat aku menuntut ilmu. Akhirnya setelah selama satu semester aku bertahan di sana, kini aku pulang ke rumah tercinta di Wonosari.

Mudik lebaran kali ini membawa cerita yang menyenangkan–terlepas dari insiden jerigen karbol yang tumpah membasahi lantai tempat dudukku. Tak seperti tahun lalu (lihat tulisan sebelumnya), tahun ini bus yang aku tumpangi tidak mogok. Perjalananpun lancar, hampir tanpa macet. Namun itu bukan yang paling menyenangkan. Taukah apa yang menyenangkan di bus yang membawa penumpang mudik ini??

Bukan orang yang duduk di sampingku yang membuatnya spesial–meskipun aku sangat bersyukur dia di sampingku–, bukan pula jalanan berliku yang membuat mata merem-melek. Bukan, yang membuat perjalanan ini terasa begitu menyenangkan adalah hampir semua penumpang di sini.

Setidaknya ada empat keluarga yang mencuri perhatianku di bus ini. Aku sedikit bersyukur memperoleh tempat duduk di belakang sehingga aku bisa leluasa memperhatikan hampir seluruh penumpang di depanku.

Yang paling pertama menarik perhatianku adalah sebuah keluarga–yang belakangan aku ketahui asalnya dari Purworejo–yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua orang anak perempuan yang cantik. Sejak menunggu bus datang di agen, mereka sudah menarik perhatianku. Dari cerita yang tidak sengaja aku dengar tapi sengaja aku perhatikan, sebelumnya mereka hanya berencana mudik bertiga. Kemudian ketika hari-H mereka minta tambahan tiket. Ketika sang adik meminta kursi di samping ibunya, kakak dan ayahnya mulai menggodai dia. Mereka bilang bahwa mestinya adik duduk di kursi ekstra karena dia yang menyusul hendak mudik akibat sudah mulai libur sekolah. Sang adik pun  sebal tapi pasrah saja. Namun ternyata ketika bus sudah sampai, kursi ekstra untuk keluarga tersebut bukanlah kursi ekstra di sebelah sopir. Mungkin karena bus sudah benar-benar penuh, kursi ekstra kedua ini hanya berupa tempat duduk biasa yang diletakkan di sebelah toilet di samping pintu darurat, yang leher kursinya diikatkan pada pegangan pintu supaya tidak bergeser. Alhasil, ejekan mengenai kursi ekstra ini justru mengenai sang ayah. Beliau yang harus mengalah untuk keluarganya dengan duduk di kursi tersebut sepanjang perjalanan pulang yang begitu jauh.

Selama perlajanan, sang kakak sering kali menengok ke belakang, menanyakan keadaan ayahnya. Beberapa kali pula dia berdiri menghampiri ayahnya sekedar untuk memberikan selimutnya atau menyerahkan air untuk berbuka. Sungguh keluarga yang harmonis, bahagia, sopan, dan saling menguatkan.

Kemudian ada lagi sepasang suami-istri yang duduk tepat di depanku. Tak ada yang spesial dari sikap mereka, kecuali cara sang suami menatap istrinya. Mereka pasangan yang sudah berumur, dengan rambut penuh uban, suara yang serak, serta keriput yang menutupi wajah tampan dan cantik mereka, tapi cinta yang mereka pancarkan ketika sedang mengobrol, minum teh bersama (mereka membawa satu termos penuh air panas beserta cangkir untuk minum), bercanda satu sama lain, bahkan cubit-cubitan, sama hangatnya dengan cinta om dan bulikku ketika mereka baru saja menikah dulu. Pemandangan yang manis selama perjalanan jauh yang cukup melelahkan ini.

Ada lagi satu keluarga yang terpaksa duduk di kursi paling belakang karena saking penuhnya bus ini. Keluarga ini terdiri dari seorang ibu dan dua orang anak yang masih kecil. Anak-anak ini berisiiiiik sekali. Apalagi ketika sang ayah keluar dari bus usai mengantar mereka. Anak-anak ini berteriak sekencang-kencangnya dari dalam bus “Da daa ayah!” berkali-kali, berharap sang ayah mendengarnya dari luar. Beberapa penumpang, termasuk aku, tersenyum menahan tawa melihat tingkah mereka. Bukan hanya itu, ternyata sepanjang perjalanan sang ayah sering menelpon istrinya, hampir setiap jam, sekedar menanyakan sampai di mana.

Keluarga terakhir duduk di barisan sebelahku, terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki. Sebenarnya tak ada yang menarik dari mereka sebelum kejadian di Kebumen, ketika bus istirahat untuk makan sahur. Sang anak dan ibu yang sudah naik ke bus mengobrol di sebelahku. Sang anak kemudian menanyakan keberadaan ayahnya yang belum juga naik ke bus. Tiba-tiba ibu bilang, “Biarin aja, ntar ayahmu juga naik. Dia lagi ke kamar mandi. Yang penting kamu gak ilang, kalau ayahmu yang ilang gak apa-apa.” (kira-kira seperti itu). Kemudian salah satu penumpang di depan menanggapi, “Iya, kalau ayahnya yang ilang kan bisa cari lagi.” Sontak penumpang yang lain tertawa.

Begitulah kira-kira gambaran orang-orang seperjalananku. Begitu hangat dan menyenangkan. Memberi energi positif pada orang-orang di sekitarnya, termasuk diriku. Kekhawatiran, kasih sayang, dan perlindungan yang mereka tunjukkan tampak menenteramkan hati. Begitulah semestinya sebuah keluarga. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s