Jadi Aktivis? Kenapa Tidak?

Jika di tulisan sebelumnya aku bercerita tentang sesi 3 SOL#2 yang diisi oleh bang Aang, kali ini cerita berlanjut ke sesi 4. Masih di hari pertama SOL#2, kali ini tidak hanya pemberian materi satu arah saja, melainkan juga diskusi antara narasumber dan peserta. Tema kali ini mengenai aktif di organisasi.

Sebelumnya, izinkan aku memperkenalkan narasumber kami. Beliau adalah Maman Suhendra, atau akrab dipanggil Bang Maman. Beliau adalah alumni STAN angkatan 1994. Beliau mengawali karirnya di BPPK sebelum akhirnya masuk di Badan Kebijakan Fiskal sejak tahun 2004 hingga sekarang. Beliau ini aktivis banget lah. Sejak masa-masa sekolah sampai kuliah beliau telah aktif di berbagai organisasi dan kepanitiaan. Bahkan beliau juga sempat menjabat sebagai Presiden Mahasiswa KM STAN. Tak salah dong beliau dipilih sebagai narasumber sesi 4 ini.

Diskusi singkat dengan beliau membuatku tersadar bahwa berorganisasi bukanlah pilihan yang salah. Kalaupun ada yang bilang jadi aktivis itu sibuk, gak bisa ngatur waktu, belajarnya kurang, kuliah atau sekolah terganggu, semua itu terbantahkan. Bagi Bang Maman, “Menjadi aktivis merupakan pilihan yang luar biasa. Organisasi adalah sekolah yang tidak ada tandingannya.” (seandainya kalian melihat ekspresi wajah Bang Maman yang penuh semangat dan percaya diri ketika mengucapkan kata-kata ini- 😀 )

Beliau memang benar. Orang-orang yang memilih untuk menjadi lebih aktif dibanding teman-temannya merupakan orang-orang yang beruntung. Mengapa? Mari kita sedikit merenung.

Jika kita jarang bertemu orang lain, akankah kita dikenal? Ketika kuliah, adakah praktek memimpin, praktek membuat suatu kegiatan besar, praktek berorganisasi? Jika kita hanya diam dan mengerjakan sesuatu yang “standar” misalnya kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang), akankah kita bertemu orang-orang yang luar biasa yang dari mereka kita bisa belajar banyak hal?

Kita tidak akan mendapatkan apa yang kita inginkan tanpa kita perjuangkan

Organisasi mengajarkan kita banyak hal sekaligus melatih mental kita dalam menghadapi dunia nyata. Dengan aktif di organisasi, kita belajar bersosialisasi, belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan yang lebih heterogen, belajar lebih menghargai orang lain, menjalin kerja sama, menciptakan jaringan yang lebih luas, dan masih banyak lagi. Mungkin semua ini tidak bisa kita rasakan seketika, tapi suatu saat di masa mendatang kita akan sadar bahwa berorganisasi telah membawa dampak yang baik bagi diri kita.

Aktivis itu kreatif, mereka dapat berfikir cepat dalam menyelesaikan suatu masalah

Hal ini aku rasakan sendiri. Berbagai masalah yang pernah aku hadapi dalam organisasi yang pastinya menuntut kerja cepat dan kerja tepat, melatih diri secara tidak langsung untuk siap menghadapi masalah. Aktivis akan lebih kreatif, menempatkan diri untuk selalu terlihat bisa dalam berbagai keterbatasan yang dimilikinya.

Menjadi aktif bukan alasan untuk membiarkan IP jatuh

Banyak contoh di kampusku, mahasiswa-mahasiswa yang aktif tetap bisa berprestasi di bidang akademis. Orang yang sudah terbiasa aktif dan mempunyai jadwal padat justru lebih bisa mengatur waktunya. Berfikir lebih cepat dan efisien serta tidak membuang-buang waktu.

Emas dan batu itu tak ada bedanya sebelum kita gali

Banyak orang yang mempunyai ide-ide besar, angan-angan yang tinggi, dan keinginan yang mulia, tapi hanya sebatas itu saja. Tanpa realisasi, tanpa tindakan. Penyebabnya bisa jadi minder, kurangnya jaringan yang bisa membantu mewujudkan angan-angan itu, atau kurang mampu berkomunikasi. Masalah-masalah ini dapat kita pecahkan dengan kita berorganisasi. Dengan begitu ide-ide yang kita punya dapat kita wujudkan bersama orang-orang di sekitar kita yang sepaham dengan kita.

Aktivis tak seperti lilin

Menjadi aktivis tidak serta merta menyerahkan diri kita pada organisasi atau kepanitiaan. Kita berfokus pada tujuan, pada apa yang dapat kita berikan pada orang lain, tanpa harus merugikan diri kita sendiri.

Siap memimpin dan dipimpin

Menjadi aktivis menuntut kita untuk siap memimpin, mengatur dan mengarahkan partner kita untuk mencapai tujuan bersama. Disamping itu, kita juga harus siap dipimpin. Menjadi senior, menjadi koordinator, tidak boleh membuat kita congkak. Kita tetap harus siap menerima saran dan instruksi, demi tercapainya tujuan bersama. Pokoknya, lakukan yang terbaik demi mencapai tujuan.

Profesional

Sebagai aktivis, kita belajar untuk bersikap profesional. Ketika di dalam organisasi atau kepanitiaan, kedudukan dan sikap kita sesuai dengan proporsi. Tak jarang kita mungkin berselisih pendapat dengan teman, saudara, atau pacar. Namun dalam organisasi, tak ada kompromi untuk itu semua. Meski begitu, di luar konteks organisasi/kepanitiaan, kita harus bersikap sebagaimana kita semestinya bersikap.

ummmm, apa lagi yak?

Kira-kira begitulah hasil diskusi singkat bersama Bang Maman, orang yang menyenangkan dan gemar bercerita. Diskusipun ditutup dengan satu kalimat yang sangat membangun:

“JANGAN PUAS DENGAN YANG BIASA-BIASA SAJA”

So, buat pasukan kupu-kupu, pertimbangkan lagi untuk aktif di luar akademis ya! InsyaAllah asik dan sarat pelajaran yang berharga.

🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s