Seminggu yang “Sesuatu” Banget

hai hai hai….

akhirnya bisa buka blog yang udah cukup lama ga keurus.

*terharu :’)

Mau cerita dong…

Seminggu ini “sesuatu” banget lah pokoknya. Banyak kesialan dan kebahagiaan sepanjang minggu ini. Banyak pula pelajaran yang bisa diambil dari berbagai peristiwa yang terjadi di minggu ini.

Sekedar informasi, pagelaran tunggal Sabdanusa tanggal 21 April kemarin membuatku lebih sering berada di kampus daripada di kosan. Nah, saking sibuknya aku ngurusin itu pagelaran, sampai-sampai tak ada tempat bagiku untuk bersedih karena hari minggu 15 April kemarin kosku kemalingan sepatu. Karena aku termasuk orang yang sepatunya paling dikit dan sepatu itu masih terhitung baru untukku, jelas aja aku merasa kehilangan. Tapi ya itu tadi, gara-gara masih sibuk ngurus pagelaran jadi pasrah-pasrah aja sepatunya ilang.

Seminggu ini aku juga banyak merepotkan teman-temanku, terutama Ramdhan, Ipul, Hendra, dan Alfon. Gara-gara sebagian besar waktuku habis di kampus, tugas kuliahku jadi berantakan. Merekalah yang membantuku tetap berada di tempat aman. Allah juga sangat menolongku dengan tidak terpilihnya aku untuk maju presentasi. Dia juga menolongku saat kuis sehingga hasilnya tetap bagus.

Namun di balik keberuntungan itu, gara-gara tiap hari berangkat jam 8 pagi pulang jam 12 malam, hari Rabu aku bangun kesiangan dan telat masuk ke kelas. Itu sejarahku selama kuliah di STAN. Ditambah lagi tali tasku putus sewaktu aku buru-buru mau berangkat kuliah. Sedih banget dah.

Kesialan (atau anugerah) juga datang langsung di pagelaran. Tempat pentas yang tadinya di Student Center harus pindah ke gedung G karena SC tiba-tiba rusak gara-gara hujan badai. Persiapan pagelaran yang sudah mendekati hari-H juga menambah kesibukan dan berpotensi menaikkan tensi darah. 😀

Di pertengahan minggu ini pula uang saku mulai menipis. Padahal masih banyak tanggung jawab yang belum aku selesaikan. Bulan ini benar-benar bulan terborosku. Untung saja celenganku sudah penuh sehingga aku masih bisa bertahan hidup.

Namun ketika persiapan terakhir pagelaran tunggal hari Sabtu kemarin, kacamataku tak sengaja patah. Speechless, mengingat aku sudah cukup boros bulan ini dan keadaan di rumah yang sedang labil. Akhirnya siang tadi aku ganti frame kacamataku dengan uang tabungan.

Sedih memang, tapi semua itu seperti tak berarti bila dibandingkan dengan kesuksesan pagelaran Sabtu malam kemarin. Acara yang kami selenggarakan berjalan lancar, penonton banyak, apresiasinya positif, pemain lancar, panitia bersemangat, pokoknya luar biasa lah. Bersyukur sekali bisa bekerja sama dengan panitia Pringgandana yang lain.

Dan sekarang aku tak tau mesti sedih atau bahagia. Allah seakan-akan mengajariku untuk selalu mengendalikan diri. Tak terlalu terlena dengan kebahagiaan, tapi tetap tak larut dalam kesedihan. Karena pada dasarnya Allah memberi kita pasangan-pasangan. Pelangi setelah hujan, tumbuh setelah mati, begitu pula kebahagiaan setelah kesedihan. Tentunya semua itu tak boleh kita sikapi secara berlebih.

^_^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s