merenung, merenung, merenung

Hwaaaaahhhhh…….

Akhir-akhir ini terasa begitu melelahkan. Ya lelah fisik, ya lelah pikiran, bahkan dompetku pun ikut lelah. Akhir-akhir ini juga aku banyak merenung. Begitu kuat ombak yang menghantam karang di diriku ini.

Beberapa hari terakhir aku dihadapkan pada pelajaran yang memperingatkanku bahwa bertanggung jawab itu bukan hal yang mudah dilakukan. Apa yang menurut perasaan dan pikiranmu sudah termasuk bertanggung jawab, belum tentu dirasakan oleh orang-orang di sekitarmu. Ah,  betapa orang-orang di sekitar kita mempunyai peran yang sangat penting dalam hidup kita. Bagaimana rasanya jika posisi ini ditukar. Aku berada di sekitar orang yang harusnya bertanggung jawab padaku, dia sudah merasa bertanggung jawab tapi aku belum bisa merasakan bentuk tanggung jawabnya. Lalu siapa yang salah? Yang semestinya bertanggung jawab atau orang-orang yang seharusnya menerima pertanggungjawaban? Tak ada yang salah seharusnya, kalau saja kita mau saling mengerti. Kalau saja kita mau mencoba untuk memahami kesulitan masing-masing. Kalau saja kita mau mengerti bahwa cara berpikir setiap orang berbeda.

Selain mengenai tanggung jawab, aku juga sering merenung mengenai penghargaan terhadap orang-orang di sekitar kita. Lagi-lagi orang-orang di sekitar kita. Mereka adalah cerminan diri kita, mereka adalah orang yang kita butuhkan untuk menjalani hidup di dunia, dan mereka adalah saudara kita. Sudah sepantasnya kita menghargai orang-orang di sekitar kita. Tapi lagi-lagi kita sering dihadapkan pada cara bersikap pada orang lain. Sikap kita menentukan pendapat orang lain mengenai penghargaan diri. Tapi bukankah sikap setiap orang dalam usahanya menghargai orang lain juga berbeda-beda? Maka siapa yang salah? Tak ada, kalau kita mau saling mengerti.

Sebenarnya inti dari perenungan yang aku lakukan adalah bahwa setiap orang itu berbeda. Kita tidak bisa memaksakan seseorang bisa bersikap seperti kita. Kita juga tidak dapat mengeneralisasi sikap orang-orang di sekitar kita. Karena memang pada dasarnya kita berbeda.

Yang harus kita pikirkan bukan pada bagaimana membuat orang lain seperti apa yang kita inginkan, tapi lebih pada bagaimana kita bisa tetap bekerja sama dalam perbedaan. Entah itu dalam berteman, bermasyarakat, berkeluarga, hubungan dengan pasangan, bahkan dalam kepanitiaan. Tak ada yang salah dengan perbedaan selama kita bisa saling menghargai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s