Akselerasi Itu ….

Untuk teman-teman 3rd Generation Acceleration Ekamas, untuk adik-adik angkatan Aksel Ekamas, untuk guru-guru dan orang tua kami yang luar biasa, dan teman-teman yang meragukan akselerasi….

Hari ini, lagi-lagi saya mendengar pendapat seseorang mengenai murid kelas akselerasi atau lebih tepatnya alumni kelas akselerasi. Di kampus Ali Wardhana ini memang dapat dengan mudah kita temui mahasiswa yang merupakan alumni kelas akselerasi dari berbagai daerah. Kebanyakan hanya satu kali akselerasi di SMA, tapi tak sedikit juga yang aksel dua kali ketika SMP maupun SMA. Dari segi fisik dan pergaulan memang alumni akselerasi bisa berbaur dengan yang non-akselerasi. Namun jika sudah ketahuan tahun lahirnya, sudah bisa ditebak mana yang dulunya aksel mana yang bukan.

Sebagian besar orang yang aku temui, terutama teman-teman mahasiswa di kampus saya, sering berpendapat anak-anak aksel itu kasihan. Mereka berpendapat anak-anak aksel itu tidak bisa menikmati keceriaan masa sekolah, terutama kelas 2. Bagi alumni non-aksel, kelas 2 adalah masa sekolah yang paling menyenangkan. Bagi mereka, kelas 1 itu masih cupu-cupu, kelas 2 itu mulai bebas, kelas 3 itu udah mesti tobat mikirin ujian. Bandingkan dengan kelas aksel yang setiap hari belajar hingga sore, tiap 2 bulan sudah ujian, per 4 bulan sudah ujian semester, dan per 8 bulan kenaikan kelas.

Orang-orang yang tidak merasakan secara langsung bagaimana perjalanan anak-anak aksel sudah hampir bisa dipastikan berpendapat bahwa kelas aksel itu tidak bebas, berat, banyak tekanan, rajin, saingan berat, dsb. Well, jika Anda termasuk yang berfikir demikian, izinkan saya bercerita.

Saya adalah alumni kelas Akselerasi angkatan ke-3 SMA Negeri 1 Wonosari, Gunungkidul, DIY. Alasan saya memilih kelas akselerasi setelah lulus SMP adalah karena saya sudah bosan bersekolah.

Kejenuhan bersekolah tersebut saya rasakan ketika saya mulai aktif mengikuti lomba olimpiade matematika SMP. Waktu itu saya sering bolos sekolah untuk mengikuti pembinaan. Masa aktif saya bersekolah waktu itu mungkin hanya 6-7 bulan saja di kelas 2. Dengan seringnya saya tidak masuk sekolah, tapi tetap bisa mengikuti pelajaran, saya fikir kenapa sekolah ini tidak dipercepat saja? Selain saya, banyak juga kok yang punya kegiatan yang menyita waktu di luar sekolah, tapi tetap bisa mengikuti pelajaran dengan baik.

Setelah saya mengetahui ada kelas akselerasi di SMA 1, saya coba mendaftar. Mumpung bisa selesai sekolah lebih cepat, fikir saya. Lagipula dengan posisi saya sebagai anak pertama, akan lebih menguntungkan jika saya bisa lulus sekolah lebih cepat. Alhamdulillah, saya diterima.

Sebenarnya kelas akselerasi tidak se”menyeramkan” yang Anda bayangkan. Saya mendapat teman-teman yang baik, lucu, santai, pintar, dan begitu ceria menjalani waktu-waktu yang kami lewatkan bersama di kelas aksel. Sebagian besar isi kelas aksel adalah orang-orang yang tidak terlalu suka berdiam di rumah tanpa teman. Dengan masuk kelas aksel, tiap hari kami bersekolah hingga sore sehingga waktu bagi kami untuk berdiam di rumah berkurang. Beberapa anak yang di daerah tempat tinggalnya jarang yang seumuran semacam saya, senang di kelas aksel karena kami ada teman ‘bermain’ hingga sore.

Kami juga kompak. Kami sangat maklum bahwa tugas-tugas yang diberikan oleh guru kami setiap hari tidak akan selesai kami kerjakan sendirian. Oleh karena itu, di kelas kami ada kelompok mata pelajaran. Tiap kelompok mengerjakan satu tugas, kemudian dibagi ke kelompok lainnya. Alhasil, kami selalu mendapat nilai 100 di tiap tugas yang diberikan.

Kami juga sadar bahwa bertahan di kelas aksel memang tidak mudah. Namun kami tidak mengeluh maupun meminta keluar dari kelas. Kami belajar bersama, terus menyetarakan nilai jika ada diantara kami yang jarak nilainya terlalu jauh. Kami tak segan-segan meminta teman kami untuk mengajari mata pelajaran yang kami belum mengerti.

Bagaimana jika di dalam kelas? Guru-guru kami adalah guru-guru yang luar biasa. Mereka bisa menciptakan kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan, tanpa beban maupun tekanan. Guru-guru kami adalah guru-guru yang sabar membimbing kami secara personal jika ada diantara kami yang tertinggal. Mereka, sama seperti kami, memahami betul pentingnya kesetaraan nilai agar tidak terjadi kesenjangan dan psikologi kami tetap terjaga.

Di luar semua itu, kami senang berada di kelas aksel karena kami memilih untuk berada di sini. Ini adalah pilihan kami, ini adalah tanggung jawab yang kami ambil. Tak ada orang tua yang memaksa kami masuk kelas aksel, kami sendiri yang menentukan pilihan kami. Karena ini pilihan kami, kawan, kami bisa menjalaninya dengan ceria, santai, dan tetap menikmati hidup. Kami tak pernah kehilangan waktu-waktu untuk bermain bersama meski sekedar makan di luar, kami tetap bisa berinteraksi dengan kakak kelas dan teman-teman seangkatan ketika istirahat, kami tetap bisa bertegur sapa dengan tetangga, ikut kerja bakti, siskamling, arisan, dsb. Semua itu karena kami menjalani yang menjadi pilihan kami.

Jadi, jika Anda fikir anak aksel itu kasihan, pahami kami lebih dalam. Semua ini mengenai sudut pandang kita (kalau kata mas Dian) dan semua ini tergantung bagaimana cara kita menyikapi (kata Ibu tersayang). Kita memang punya kehidupan yang berbeda, antara aksel dan non-aksel. Namun kita juga punya cara kita masing-masing untuk menjalaninya.

^_^

Iklan

5 thoughts on “Akselerasi Itu ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s