Me and My Dad

Sebagai seorang anak perempuan, aku memang sangat mengagumi ibu. Namun disamping itu, sebagai seorang anak yang paling tua, aku sangat mengagumi ayah.

Ayah adalah sosok yang sangat penyayang dan pekerja keras. Dia juga seseorang yang suka menolong. Dia mendidikku dan adikku dengan cara yang berbeda. Dia membuatku tetap sebagai perempuan tapi perempuan yang tidak lemah, dan membuat adikku sebagai laki-laki yang lebih bebas, kreatif, dan berani.

Dia, menurut ingatanku, tak pernah benar-benar marah di depan kami, anak-anaknya. Kalaupun dia marah, itu adalah ekspresi dari kekhawatirannya pada kami. Dia juga seperti kebanyakan orang yang bergolongan darah O yang sulit ditebak. Aku begitu menyayangi ayahku. Setelah kakak perempuanku meninggal dan ibu melahirkanku, ayah seperti mendapatkan mbak Friska kembali. Dia sangat menyayangiku, mengerti aku, dan memanjakanku.

Dia sering mengajakku jalan-jalan, membawaku ke kantornya, pergi ke rumah saudara naik motor, menunjukkan padaku indahnya bukit bintang, dan hal kecil lainnya.

Waktu kecil dan umurku belum mencapai 10 tahun, aku sering mengerjai ayahku. Sejak kecil aku suka begadang nonton TV. Bahkan tak jarang aku ketiduran di atas tikar ruang TV. Jika sudah begitu, ayah pasti menggendongku ke kamar. Aku suka sekali digendong ayah. Kalau lagi manja biasanya aku pura-pura ketiduran. Setelah ayah menggendongku, aku akan mengagetkannya dengan bangun tiba-tiba. ๐Ÿ˜€ Ayahku juga suka mengantarkanku ke sekolah berboncengan dengan temanku.

Ayah juga pernah menyuapi aku dan adikku, menemaniku di rumah berdua jika ibu menginap di rumah eyang, menggelitikiku hingga menangis, membelikanku boneka kelinci (boneka pertama dan warnanya pink) dan majalah Bobo, juga menyisir rambutku. Dia selalu membuatku merasa aman. Kadang jika ayah pergi hingga larut malam, aku menunggunya tanpa bisa tidur untuk membukakan pintu untuknya. Aku juga suka menungguinya mengetik pekerjaan kantor sampai larut malam. Selain karena bunyi mesin tiknya yang berisik dan membuatku tak bisa tidur, aku senang melihat kelincahan jari jemarinya saat mengetik. Dia juga fotografer andal yang banyak menjuarai lomba fotografi, pembuat gambar ornamen dan tulisan hias yang indah, dan vokalis band yang tak jelas nama dan nasibnya. ๐Ÿ˜€

Dia juga pernah menjadi pemain bola di desa. Kadang dia main sebagai penyerang, kadang juga sebagai kiper. Kalau bapak sedang menjaga gawang, aku suka menonton di belakang gawangnya.

Dia pernah membangunkanku di pagi buta hanya untuk menonton pertunjukan wayang kulit.

Sebagai seorang ayah, dia juga pernah menangis. Waktu itu aku harus operasi amandel. Dalam keadaan setengah sadar dan masih dalam pengaruh obat bius, menurut cerita ibuku, aku merintih kesakitan seusai operasi. Saat itulah ayahku menangis, mengkhawatirkan keadaanku.

Hal mengharukan lainnya adalah saat aku SMA. Waktu itu aku berhasil menduduki peringkat kedua di kelas aksel waktu ujian semester. Keluar dari ruang penerimaan rapor, dia tersenyum begitu tulus dan tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Aku harap aku bisa melihat senyum itu saat aku diwisuda kelak. Aamiin, ๐Ÿ™‚

Yap, begitulah ayahku. Ayah yang aku sayangi dan menyayangiku, adikku, ibuku, dan orang-orang di sekitarnya.

Ditulis di Wonosari, pada 9 September 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s