Save STAN #2

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Mungkin kalian sudah tahu mengenai pembukaan USM STAN tahun ini. Ternyata keputusan untuk tidak menerima calon mahasiswa D3 benar-benar terjadi. Tahun ini STAN hanya menerima calon mahasiswa D1 untuk spesialisasi Perpajakan dan Bea Cukai. Hanya dua spesialisasi yang diterima. Mungkin total mahasiswa yang diterima seluruhnya sekitar 1000 orang saja.

Tak sedikit orang yang kecewa dengan keputusan ini. Teman-teman dan adik kelas saya yang sebelumnya antusias menunggu pengumuman USM STAN membatalkan niatnya untuk mendaftar STAN karena kemungkinan diterima yang kecil dan prospek yang tidak terlalu bagus dibandingkan jika mereka kuliah di tempat lain. Ada juga teman saya yang terpaksa membatalkan proyek bukunya yang sudah siap cetak akibat pengumuman USM yang mendadak, pendaftaran yang kilat (hanya 10 hari saja), perbedaan sistem penerimaan, dan kemungkinan rugi yang tinggi. Di samping itu, saya dan teman-teman seangkatan merasa sedih karena tidak punya adik kelas. We are the last akunisti. Yah, semoga saja hal ini tidak terjadi.

Sabtu lalu saat saya kehujanan dalam perjalanan ke daerah Sarmili, saya berteduh di sebuah pos ronda bersama seorang ibu dan dua orang bapak. Dua diantaranya dari Pekalongan, dan salah seorang lagi dari Semarang, jadi kami bisa mengobrol dengan bahasa Jawa. 🙂

Sebelumnya saya hanya sebagai pendengar. Mereka begitu asik membicarakan USM STAN tahun ini. Sampai salah seorang bertanya pada saya apakah tahun ini STAN tidak menerima murid. Saya pun menjawab sebagaimana adanya, bahwa STAN hanya menerima sedikit murid D1 tahun ini. Seketika ibu yang berprofesi sebagai penjual pecel itu sedih. Beliau sudah berjualan di Bintaro ini sejak tahun 1996 dan tiap kali penerimaan STAN beliau mendapatkan untung banyak karena banyak pendaftar yang datang ke kampus. Untuk menyambut penerimaan mahasiswa tahun ini beliau sudah terlanjur membeli termos tambahan untuk membuat es kelapa muda. Tapi ternyata harapan beliau untuk dapat menikmati kenaikan pendapatan pupus sudah. Momen satu kali dalam setahun yang diharapkan ternyata tidak hadir tahun ini.

Lain lagi dengan bapak yang dari Pekalongan. Selain berjualan makanan, beliau juga menyewakan rumah kos. Baru saja beliau selesai membangun sebuah rumah yang cukup besar di daerah Kalimongso. Beliau berharap dapat memperoleh penghasilan tambahan dari usahanya itu. Harapannya pun luluh ketika mengetahui mahasiswa yang diterima tahun ini jauh lebih sedikit dibanding jumlah mahasiswa yang bakal diwisuda. Sedih rasanya membayangkan rumah yang beliau bangun dengan berkorban harta yang tak sedikit mesti menganggur entah sampai kapan.

Para pengurus BEM dan UKM juga kebingungan. Pemasukan terbesar mereka dari iuran mahasiswa baru tahun ini bakal sedikit sekali. Beberapa mungkin mulai melakukan penghematan, dan ada pula yang melakukan pembiayaan dengan cara lain seperti berjualan.

Saya sebagai pengajar sukarela di Lapak Bambu Pelangi dan Sahabat Bumi juga merasa sedih. Sebelumnya saya membayangkan akan ada banyak kakak-kakak pengajar yang baru di lapak kami. Tapi dengan hanya diterimanya mahasiswa D1 yang kuliah 1 tahun saja, kepengurusan akan terlalu cepat berganti.

STAN

Begitu banyak orang bergantung pada kampus ini. Mungkin bagi petinggi di sana, keputusan untuk hanya menerima mahasiswa D1 sangat tepat. Namun di sisi lain, tiap kali saya membayangkan kampus yang sepi, UKM yang anggotanya sedikit, pengajar lapak yang semakin berkurang, rumah kos yang akhirnya dijual, warung makan yang semakin sepi, sedih rasanya. Bagaimana mereka nantinya? Bagaimana mereka mencukupi kebutuhan hidup mereka?

Mungkin tak ada yang bisa kita lakukan selain berdoa tahun depan kampus ini akan ramai lagi. Akan ada penerimaan D3 lagi. Akan ada spesialisasi akuntansi lagi. Tempat kos akan banyak terisi. Pengajar lapak banyak yang baru dan berkualitas. Semakin banyak pegawai kementerian keuangan yang berdedikasi.

Aamiin,

Kita tunggu saja tahun depan.. 🙂

Save STAN.!!!

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s