Save STAN #1

Assalamu’alaikum wr. wb.

Save STAN,

Kata-kata yang sepertinya sedang menjadi trending topic anak-anak STAN akhir-akhir ini. Bagaimana tidak, kabar akan ditutupnya program diploma 3 di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara sungguh sangat mengejutkan. Banyak pihak yang kecewa, bukan hanya mahasiswa STAN (terutama yang baru menjalani semester 2 seperti saya), tapi juga adik-adik yang baru lulus SMA dan berkeinginan masuk STAN.

Sebelumnya saya tekankan, saya menulis mengenai ini bukan karena saya terlalu menyombongkan STAN. Saya hanya berharap tulisan ini dibaca banyak orang, sehingga doa seperti yang saya dan teman-teman mahasiswa STAN panjatkan akan banyak yang mengamini, yaitu doa untuk eksistensi STAN.

Mungkin bukan waktu angkatan kami saja di STAN banyak gosip. Setiap tahun selalu saja ada gosip miring mengenai STAN, seperti STAN tidak ikatan dinas lagi, sekolah di STAN biayanya mahal, dan sebagainya. Tapi sepertinya gosip mengenai akan ditutupnya program D3 di STAN hampir jadi kenyataan.

Kekhawatiran kami dan adik-adik kelas kami sudah sejak bulan lalu. Biasanya pengumuman mengenai pendaftaran STAN sudah ada sekitar bulan Mei, tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda akan diadakannya pendaftaran. Dari obrolan yang saya dengar dari teman-teman, kabarnya ada pejabat yang tidak suka dengan STAN (ada dendam pribadi sepertinya). Ada juga berita yang mengatakan anggaran untuk gaji PNS terlalu besar. Kalau benar anggaran gaji PNS yang jadi alasannya, mengapa sepertinya hanya STAN yang diobok-obok?

Saya rasa tidak baik bagi saya untuk menyebarkan gosip tidak jelas seperti itu. Lebih baik saya bercerita saja mengenai apa yang saya lihat dan rasakan di kampus Ali Wardhana ini.

STAN ada kampus yang unik, menurut saya. Untuk masuk STAN, saya harus melalui tahap-tahap USM yang begitu ketat. Dari batas nilai minimum, surat keterangan dokter, surat kelakuan baik, dsb. Belum lagi ujian tulisnya. Menurut saya, ujian tertulis di STAN memang masih kalah sulit dibanding ujian tulis di UGM, UI, maupun ITB. Yang sulit dari ujian tulis ini adalah saingannya. Pendaftar ujian STAN bukan hanya ribuan, tapi ratusan ribu dan hanya sekitar 1000–3000 orang saja yang diterima.

Bukan hanya ujiannya saja yang ketat. Kuliah di sini pun tak lepas dari peraturan yang ketat dan terkesan ribet. Hal ini juga yang membatasi perkembangan mahasiswa di bidang non-akademis. Namun peraturan yang ketat ini bukan dibuat tanpa tujuan. Di sini kami benar-benar diberi bekal disiplin untuk menghadapi lapangan kerja kami nantinya. Peraturan yang detail seperti seragam, penggunaan KTM, jam kuliah, jumlah kehadiran, ancaman DO, bahkan menginjak rumput taman pun ada aturannya.

Orang pintar belum tentu lho bisa mudah lolos ujian STAN. Menurut pengamatanku, masuk STAN itu bener-bener sebuah keberuntungan. Invisible hand Yang Maha Kuasa yang menuntun seseorang untuk masuk STAN.

Mengenai kuliah, mungkin STAN termasuk yang santai seperti sungai. Tenang menghanyutkan. Bisa saja dalam seminggu kami hanya kuliah 3-4 hari. Namun jangan salah, di sini materi satu semester bisa dibabat dalam 2 bulan saja, cukup 4 pertemuan untuk ‘menghabiskannya’. Materi yang diajarkan pun hampir setara dengan S1 di luar STAN. Pengajar-pengajar di STAN juga mengagumkan. Mulai dari lulusan D4 yang masih ‘segar’, sampai auditor pajak, pegawai kementerian keuangan yang kayaknya udah eselon 2 atau 3, profesor yang biasanya mengajar S3 atau S2, dan dosen-dosen mengagumkan lainnya yang mungkin akan saya temui ketika tingkat 2 atau 3 kelak.

Yah, sepertinya cukup dulu untuk hari ini. Di tulisan selanjutnya insyaAllah akan saya ceritakan keadaan di luar kampus kami. ^^

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Iklan

8 thoughts on “Save STAN #1

  1. iya, di STAN ini saya benar-benar merasakan bahwa kita dididik untuk jujur dan berintegritas. sakit rasanya mendengar kabar miring bahwa STAN akan ditutup, sama hal nya ketika kasus gayus mencuat dan menyebabkan baik mahasiswa maupun alumni STAN dianggap sama seperti dia.
    SAVE STAN!

  2. sebenarnya kalau mau lebih diteliti, banyak juga Gayus2 lain yang berasal dari luar STAN. sangat sempit pikiran seseorang kalau menganggap STAN sekolah calon koruptor.
    terima kasih komentar2nya, mari kita berdoa bersama untuk eksistensi STAN.!! save STAN.!!!

  3. nice posting ewi 🙂 perubahan tidak selamanya buruk sbgmana tdk selamanya baik. semoga “reformasi” sistem nanti yang selama ini diisukan bisa menjadi perubahan untuk lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s