KOTA TUA, menggila bersama Goekil

IMG_1672

Assalamu’alaikum

Wah wah, minggu ini sebenernya libur empat hari. Tapi sejak Kamis aku malah jarang di kos, banyak kegiatan. Termasuk kemarin, Sabtu, 23 April 2011. Aku bersama 11 keluarga Goekil lain jalan-jalan ke Kota Tua.

Pagi-pagi sekitar pukul 6.30 aku berangkat ke pondok PNS. Dalam perjalanan aku bertemu mas I’am lagi sarapan. Sampai di pondok PNS, baru ada mas Risdian. Mas Dian (tuan rumah) malah belum keliatan. Ternyata dia malah belum bangun.

Sekitar pukul 7 sudah banyak yang datang. Selain aku, mas Dian, dan mas Risdian, ada juga mas I’am, Muiz, Denta, Tinus, Ilham, mas Feri, mas Mitsuka, mas Ridwan, dan Pungki. Kemudian kami menuju stasiun Pondok Ranji.

Kereta berangkat pukul 8. Kami terpaksa naik KRL ekonomi, satu-satunya yang menuju stasiun kota. Tak apalah, yang penting perjalanan lancar.

Kereta penuh sesak dengan penumpang, pedagang keliling, pengamen, panas lah pokoknya. Untung saja kami ber-12 bisa segera mendapat tempat duduk.

Kebetulan aku duduk di dekat jendela, sehingga bisa melihat pemandangan di luar. Tak hanya gedung-gedung, jembatan, jalan tol, dan kebun saja yang aku lihat di luar. Ada juga gubug-gubug kecil di pinggir rel dengan setumpuk sampah di dekatnya. Baju-baju yang dijemur di samping gubug, anak-anak kecil yang bermain-main, seorang ibu yang tidur dengan nyaman di sebuah kursi panjang di samping gubug, membuat air mata ini ingin jatuh. Betapa aku merasa bersyukur dilahirkan di keluarga yang baik, cukup meski tak lebih, tumbuh di rumah yang layak huni, mendapat asupan gizi yang cukup, bisa bersekolah sampai sekarang kuliah. Beruntung sekali aku.

Ada juga yang bikin kami cukup terkejut. Ternyata bukan hanya bus yang bisa menurunkan penumpang di tengah jalan, kereta pun bisa. Ckckck,

Perjalanan dari Pondok Ranji ke Kota Tua kira-kira satu jam. Sampai di stasiun kota, kami melihat jadwal kereta dulu. Kereta kami dijadwalkan berangkat pukul 3 sore, jadi kami punya waktu sekitar 6 jam untuk jalan-jalan.

Keluar dari stasiun kota, hawa panas langsung menerpa. Hhuh, namanya juga Jakarta. Tujuan pertama kami adalah museum Fatahillah.

Karena tarif pelajar/mahasiswa lebih murah, dengan konyol mas Dian mengeluarkan KTM universitas tempat dulu dia diterima. Kemudian beberapa yang lain mengeluarkan kartu pelajar waktu SMA. Dapatlah kami masuk dengan tarif pelajar, hehe.

Di museum fatahillah terdapat benda-benda peninggalan Belanda. Ada juga kapak-kapak perunggu, tiruan prasasti Kebon Kopi dan Ciaruteun, keramik dan gerabah zaman dulu, lukisan-lukisan, meriam, dan yang aku suka, patung Hermes. Di dekat taman, di bawah bangunan, terdapat beberapa penjara beserta beban-beban yang dulu dipakaikan di kaki tawanan. Penjara tersebut gelap dan atapnya rendah dengan jeruji ganda yang ketebalan besinya sekitar 7cm.

Setelah menikmati jelly yang aku bawa dan puas berfoto ria di museum Fatahillah, kami jalan-jalan di sekitar lapangan kompleks Kota Tua. Beberapa ada yang melihat-lihat asesori yang dijajakan, beberapa ada yang duduk-duduk di bawah pohon, sedangkan aku, mas Ridwan dan mas Risdian setelah melihat-lihat bangunan kecil yang ternyata (seharusnya) air mancur, kami menonton atraksi. Dalam atraksi tersebut ada anak kecil yang dibungkus kain putih menyerupai pocong, lalu dililit dengan tali. Setelah salah seorang bapak membaca mantra dengan sebilah keris, anak kecil tersebut dimasukkan dalam bentangan kain hitam, dan setelah beberapa saat, si anak keluar dengan kain dan tali sudah terlepas dari tubuhnya.

Setelah puas nonton, kami menuju toko souvenir. Ada yang beli gantungan HP wayang, bros wayang, gantungan kunci boneka, kacamata, gelang, dsb. Karena aku rasa tidak ada yang khas, aku tidak beli apa-apa.

Berhubung aku, mas Dian, dan beberapa teman lain belum sarapan (lagipula sudah siang), kami mencari tempat makan. Pilihan pertama: nasi bungkus pinggir lapangan >>batal. Pilihan kedua: Batavia Cafe >>mahal. Akhirnya kami memesan ketupat sayur dan es teh, lalu makan di depan Batavia Cafe. (hehe, dasar anak kos).

Setelah perut terisi, rencananya kami mau menyewa sepeda+pemandu untuk keliling kawasan Kota Tua, tapi karena cukup mahal, kami jalan kaki saja.

Yang pasti ada di Kota Tua adalah bangunannya yang bener-bener tua :D. Beberapa juga ada yang sudah rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Lalu ada sebuah bangunan di belakang museum wayang yang sudah rusak atapnya dan dari tengah bangunan tumbuh sebuah pohon yang sangat besar, hingga puncak pohonnya terlihat dari luar menembus atap bangunan.

Di dekat situ juga ada sungai yang cukup lebar dan cukup bau. Tak betah di sana, kami melanjutkan perjalanan. Rencananya sih mau ke pelabuhan Sunda Kelapa.

Dalam perjalanan, kami melewati jembatan Kota Intan. Jembatan ini cukup bagus, berwarna kemerahan, tapi sayangnya sudah tidak dipakai lagi.

Karena tak juga sampai ke pelabuhan dan sudah masuk waktu salat Dzuhur, kami salat dulu di masjid yang kami temui. Sebenarnya cukup melelahkan dan panas juga, tapi beberapa masih ingin melanjutkan perjalanan ke pelabuhan.

Dari masjid, kami berjalan kaki lagi ke arah pelabuhan, berharap tak lama lagi kami sampai. Namun sepertinya pelabuhan Sunda Kelapa tinggal angan karena kami sudah keburu kelelahan dan belum mendapat tanda-tanda adanya pelabuhan. Jadilah kami naik angkot, bukan menuju pelabuhan, tapi balik lagi ke kawasan kota tua. Masih ada waktu dua jam sebelum kereta berangkat.

Kami memutuskan untuk duduk-duduk di sekitar museum keramik saja. Di tempat ini lebih sejuk dan nyaman untuk duduk-duduk melepas lelah karena perjalanan konyol tadi.

Tak terlalu suka dengan museum, kami hanya melihat-lihat dari luar lalu duduk-duduk di halaman depan. Banyak pedagang di sana dan kami memilih tukang rujak, hehe. Rujak habis, lanjut ke es buah. Ada kejadian lucu juga tentang es buah. Mas Mitsuka yang tidak kebagian mangkok, makan dari plastik. Ujung plastik belum diikat, ujung satunya udah dilubangi. Pas mau ngikat ujung satunya, tumpahlah es buah itu termasuk anggur yang belum terjamah lidah :D.

Sekitar pukul 2.30 siang, kami kembali ke stasiun. Pukul 3.10 kereta berangkat, mengantar kami pulang dengan keringat bercucuran, dan BJ-BJ yang siap-siap mangkal. Aku pikir mereka juga sama malunya dengan kami yang melihat. Mereka hanya tidak tepat mengambil sikap untuk menghadapi keadaan yang sulit.

Sampai kampus, aku berpisah dengan yang lain menuju gedung E untuk salat. Selesai salat, aku langsung ke lapak untuk mengajar. Mas Dian tidak ikut karena ada rapat panitia suatu kegiatan di kampus.

Magrib baru aku sampai kos lagi dengan lelah dan kantuk yang sangat..

Demikianlah sehari yang melelahkan bersama Goekil. Meski begitu, aku senang sekali. Tak pulang pun, terasa ada keluarga di sini. 🙂

Wassalamu’alaikum

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s