UAS Pertama, antara Suka dan Duka

Tak terasa aku dan teman-teman maba miba sudah satu semester menuntut ilmu di Kampus Jurang Mangu ini. Pada tanggal 14–25 Februari 2011, aku dan teman-teman SATGAS dan lainnya menjalani UAS semester ganjil.

Karena pengalaman UTS kemarin yang tidak terlalu memuaskan, pada UAS kali ini kami berusaha keras untuk dapat melaluinya dengan baik. Kami belajar bersama, saling bantu dalam setiap kesulitan, berdoa bersama. Besar harapan kami untuk dapat terus bersama, 39 orang anggota SATGAS dalam satu kelas. Sampai UAS selesai pun kami saling mendoakan agar kami semua dapat lulus (meski dengan nilai pas-pasan).

Setelah UAS, kami mendapat libur 3 minggu. Teman-teman banyak yang langsung pulang. Meski begitu, aku masih bertahan di kos selama satu minggu (Liburan Minggu Pertama). Setelah urusanku di Jurang Mangu selesai, aku pulang ke Gunungkidul.

Tadinya kami ber-39 sudah lega karena ketua kelas kami mengabarkan setelah rapat dosen tanggal 10 Maret 2011 bahwa kelas kami lulus 100%. Didukung pula ucapan selamat dari salah satu dosen kami. Kami semakin yakin kalau kami masih bisa bersama.

Namun seketika keadaan berbalik. Beberapa hari kemudian, salah seorang teman bilang kalau dia dan satu orang lagi dihubungi oleh sekertariat. Mereka harus menjalani remidial di kampus. Sedih sekali rasanya, sekaligus merasa bersalah karena akulah yang menyebar sms bahwa kelas kami lulus 100%.

Hingga saat pengumuman hasil ujian tanggal 15 Maret 2011 kami berada dalam suka sekaligus duka. Salah satu teman kami masuk rumah sakit dan harus dioperasi karena kecelakaan motor sedangkan dua orang lagi belum keluar nilainya. Sedih rasanya membayangkan kalau harus ada dari kami yang angkat koper lebih dulu.

Selama minggu terakhir liburan, masih belum ada kejelasan mengenai teman kami. Bingung, tapi tak tau harus berbuat apa. Akhirnya aku hanya bisa berdoa dan menunggu saat masuk nanti.

Senin, 21 Maret 2011. Hari pertama kuliah semester genap.

Senang sekali rasanya bisa berkumpul lagi bersama SATGAS. Namun, kawan, apa yang kami takutkan terjadi. Saat aku lihat daftar hadir kelas kami, hanya ada 38 nama di situ. T.T

Hari itu benar-benar suram. Saat aku tau ada yang angkat koper duluan dari SATGAS, pengin nangis rasanya. Sedih banget, salah satu sahabat kami harus pergi.

Padahal hari itu kuliahnya menyenangkan. Dosen-dosen baru kami juga asyik, ga tegang saat memberi kuliah. Apalagi waktu kuliah Pengantar Perpajakan, kami benar-benar tak bisa menahan rasa kehilangan. Dosen kami sering sekali bercerita tentang Makassar, tentang istilah-istilah orang sana. Ya Allah, besar nian cobaannya.

Sampai sekarang aku masih merasa ada yang kurang. Saat kuliah, saat futsal, saat aku ngirim jarkom kelas.

Namun apalah daya manusia. Kami bukan apa-apa, tak punya kuasa atas kehidupannya. Mungkin, dan aku yakin, kejadian ini ada maknanya. Allah telah mengarahkan dia ke jalan yang terbaik bagi hidupnya. Allah akan mengganti tiap tetes air mata yang jatuh di tiap doanya dengan sesuatu yang lebih baik dan mebahagiakan.

Kami berharap dia selalu diberi kekuatan untuk menjalani kehidupannya. Kami tak ingin dia terlalu lama bersedih hingga tak sanggup melihat rahmat-Nya. Kami yakin daeng kami bisa bertahan dan terus maju.

InsyaAllah..

Iklan

4 thoughts on “UAS Pertama, antara Suka dan Duka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s