Friska Nur Fitriani

Kakakku yang aku sayang, meski tak pernah aku kenal…

Dulu, aku tidak percaya pada apa yang ibu kita ceritakan tentang kamu. Aku pikir itu hanya sekedar dongeng seperti biasa ibu ceritakan. Namun entah mengapa saat itu aku merasakan kerinduan yang ibu rasa. Meski saat itu aku baru sekitar 10 tahun, aku tahu dan yakin kalau cerita tentangmu itu benar.

Sejak saat itu, kak, aku sering merindukanmu. Berkhayal seandainya engkau tak pulang lebih dulu dan menemani aku main dan bercerita bersamaku. Bisa jadi dengan begitu aku tak terlalu tomboy, hehe.

Aku sering menganggapmu ada, sebagai teman khayalanku. Bukan hanya saat aku masih kecil, hingga sekarang pun aku suka ngobrol sendiri dengan bayanganmu. Hmm, kau pasti cantik dengan kulit terang dan rambut panjang lurus. 🙂

Maaf ya kak.. Dulu aku sering menyalahkanmu. Terutama kalau aku sedang suntuk di rumah. Aku tidak terima karena engkau pulang lebih dulu dan aku harus menggantikan posisimu. Kadang aku merasa jenuh, tidak suka jadi kakak, tidak suka jadi anak pertama. Aku mau jadi adik aja, adik yang disayang dan dimanja seorang kakak.

Saat aku bimbang menentukan pilihan antara mengejar cita-cita atau menuruti kehendak orang tua, aku juga menyalahkanmu. Seharusnya kamu yang di posisiku. Kamu yang harus menentukan sikap untuk masa depan keluarga kita. Kamu yang seharusnya mengorbankan cita-citamu, bukan aku!

Namun, kak, semakin hari aku semakin menyadari bahwa aku salah. Aku sadar, Allah tak pernah menetapkan satu hal pun yang sia-sia bagi makhluknya. Begitu juga denganmu. Allah menyuruhmu kembali lebih awal bukan tanpa tujuan.

Jika engkau masih di sini, mungkin aku tidak akan berfikir dewasa dan akan seterusnya manja. Jika engkau di sini bisa jadi adik kita tidak ada. Jika engkau di sini, tidak ada yang bersiap menyambut orang tua kita di sana.

Allah itu adil ya kak. Allah memberiku kesempatan untuk memperbaiki hidup keluarga kita, untuk membahagiakan orang tua kita. Sedangkan engkau di sana menunggu untuk menuntun mereka, mengiringi langkah mereka.

Kak, aku harap engkau tenang di sana. Aku tidak akan menyalahkan keadaan lagi. Aku akan menjalani hari-hariku di sini. Melakukan apa yang bisa aku lakukan. Menyelesaikan apa yang sudah aku mulai.

Aku harap aku bisa menggantikan peranmu dengan baik, kak. Dan aku harap aku punya cukup waktu untuk itu. Orang-orang yang membaca tulisan ini bisa jadi menganggap aku konyol. Tapi aku tidak mungkin juga mengirim surat untukmu. Jadi hanya tulisan inilah, ungkapan hati adikmu yang sayang dan selalu merindukanmu. Orang tua kita juga sayang padamu, apalagi bapak. Tak ada yang bisa menggantikanmu di hatinya, bahkan aku sekalipun.

Hanya doa yang bisa aku berikan, kak. Semoga engkau tenang dan terlindungi di sana.

(^_^)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s