Di Balik Misteri Pohon Besar

Bel sekolah berbunyi. Anak-anak SMP Permata Bunda berhamburan keluar kelas. Mereka pulang dengan wajah ceria. Hari ini adalah hari pembagian raport bagi murid kelas VII dan VIII. Mereka tampak senang sekali. Entah hari itu mereka dapat nilai buruk atau baik, yang pasti mereka telah siap untuk liburan.
Dini, salah satu murid sekolah ini masih ada di ruang kelas VIIIa. Dini dan kedua temannya, Lisa dan Luna sedang membicarakan tentang rencana liburan mereka.
“Bagaimana, jadi tidak kalian ikut aku ke kota Dewandaru?,” kata Dini.
“Jadi donk! Lagian aku juga sudah bicara sama orangtuaku dan mereka setuju,” jawab Lisa.
“Kalau kamu, Luna? Kamu sudah bilang sama orangtuamu?,” tanya Dini kepada Luna yang sedari tadi hanya diam.
“Sudah, tapi kemarin ayahku bilang dia tidak punya uang banyak untuk bekalku,” jawab Luna.
“Sudahlah, kita ke Dewandaru untuk liburan, bukan belanja. Lagipula kita berangkat dengan diantar ayahku. Di sana pun kita akan menginap di rumah nenekku  di Maja. Jadi kamu tidak perlu memikirkan uang saku segala. OK!,” hibur Dini.
“Makasih, ya Din.”
Akhirnya acara liburan ke Dewandaru terlaksana. Pagi itu jam 8 mereka sudah siap di rumah Dini. Dengan diantar oleh ayah Dini, mereka berangkat ke Dewandaru. Rencananya mereka akan keliling kota terlebih dahulu sebelum akhirnya ke rumah nenek Dini. Mereka akan menginap selama 3 hari di rumah nenek Dini.
Sekitar jam 1 siang mereka sampai di kota Dewandaru. Karena hari sudah siang, mereka berhenti di sebuah rumah makan untuk makan siang.
“Sudah, santai saja! Semua biaya ditanggung ayahku. Jadi kamu tidak perlu khawatir,” kata Dini kepada Luna yang terlihat gelisah.
“Iya, makasih banyak ya Din! Terimaksih, Pak!,” kata Luna.
“Sama-sama, Luna.”
Setelah selesai makan siang, ayah Dini mengajak mereka berkeliling kota. Setelah puas berkeliling, mereka langsung menuju rumah nenek Dini di desa Maja.
Dini dan teman-temannya sampai di sana jam tiga. Sampai di rumah nenek Dini, mereka disambut hangat oleh nenek, paman, bibi, dan sepupu Dini, Siti. Karena sudah sangat kelelahan, Dini mengajak teman-temannya untuk istirahat di dalam setelah sebelumnya menyalami nenek, paman, bibi, serta Siti.
Setelah hilang rasa capek, mereka mandi kemudian membantu nenek memasak di dapur untuk makan malam. Paman dan bibi sudah pulang. Hanya Siti yang masih tinggal. Dia juga akan menginap di sana untuk mengisi liburan sekolahnya. Ayah Dini sudah pulang sejak tadi karena besok dia harus bekerja.
Setelah masakan matang, mereka makan bersama di ruang tengah sambil menonton acara TV. Selesai makan, Dini dan teman-temannya mencuci piring mereka sendiri. Sejak kecil mereka memang sudah terbiasa melakukannya. Setelah itu mereka bergabung dengan nenek dan Siti di ruang tamu untuk mendengarkan cerita nenek.
Nenek Dini adalah orang yang baik. Walau sudah tua, dia masih terlihat cantik. Nenek Dini sangat menyayangi cucu-cucunya. Dia sangat senang apabila cucunya menginap di sana, apalagi dengan membawa teman. Hal itu disebabkan karena dia hanya tinggal sendirian di rumah itu.
Nenek Dini suka bercerita. Biasanya dia bercerita tentang perjuangan bangsa Indonesia ketika masih dijajah Jepang, dongeng, atau cerita-cerita mistik daerah sekitar. Malam itu nenek Dini memilih untuk mendongeng. Nenek Dini memang benar-benar pitar mendongeng. Belum tuntas nenek bercerita, mereka berempat sudah tidak kuat menahan kantuk.
“Sepertinya kalian sudah mengantuk. Sebaiknya kalian tidur. Besok ceritanya kita lanjutkan lagi,” kata nenek.
“Ya sudah, Nek. Kami tidur dulu. Selamat malam, Nek!.”
Keesokan harinya Dini, Siti, Luna, dan Lisa membantu nenek dan sore harinya mereka pergi jalan-jalan.
“Nek, kami pergi jalan-jalan dulu ya!,” kata Dini.
“Ya, hati-hati. Tapi ingat, kalian tidak boleh bermain-main di dekat pohon besar di tepi danau. Kalau ‘penunggunya’ sampai marah, bisa bahaya nanti! Mengerti?,” kata nenek sungguh-sungguh.
“Baik, Nek.”
Ternyata peringatan nenek tadi tidak cukup untuk membendung keingintahuan Dini dan kedua temannya. Dini memang sudah sering ke rumah neneknya dan pergi ke danau itu. Tapi karena selalu dilarang dan hanya sendirian, dia tidak berani mendekati pohon itu. Saat ini dia pergi berempat dengan Siti, Lisa, dan Luna. Hal itu cukup untuk membulatkan tekad Dini untuk mengungkap misteri tentang pohon itu.
“Kita pergi ke pohon itu, yuk!,” ajak Dini.
“Ayo! Aku penasaran. Apa benar pohon itu ada penunggunya?,” sahut Lisa.
“Aku juga penasaran. Makanya, sekarang kita sama-sama mencari tahu. Setuju gak?,” kata Dini.
“Setuju!!,” jawab Lisa dan Luna bersamaan.
“Tapi, Kak! Siti takut.”
“Tidak apa-apa. Kau terus saja berada di dekat kami. Jangan berjalan sendirian, ya!,” kata Luna.
Siti hanya diam dan mengangguk.
Sejak kecil, Siti memang penakut. Dia juga sangat mudah shok apabila melihat sesuatu yang tidak mengenakkan. Oleh karena itu dia terus berada di dekat Dini sambil memegang erat tangan kakaknya itu. Tak lama kemudian mereka sampai ke pohon besar yang dimaksud.
“Tuh, kan! Tidak ada apa-apa di sini. Malahan tempatnya asyik, udaranya sejuk, pemandangannya indah, lagi! Kenapa sih nenek kamu melarang kita bermain-main di sini?,” kata Lisa.
“Aku juga tidak tahu, Lis. Tapi kata nenek, pohon ini ada penunggunya. Batangnya saja sampai dililit kain kafan.,” kata Dini.
“Wah! Lihat danaunya! Indah sekali, ya! Airnya juga sejuk. Sayang aku tidak bawa baju renang.,” kata Luna.
“Iya, sayang sekali. Padahal aku juga ingin berenang.,” kata Dini.
Siti yang mulai tenang, ikut menikmati pemandangan yang terbentang di hadapannya. Dia tampak senang sekali melihatnya. Tiba-tiba Siti merasa ada orang yang mengawasinya.dia menoleh. Dia ketakutan ketika melihat sesuatu yang mengerikan di depannya.
“Ha…ha…hantu…!!,” teriak Siti.
Serentak Dini, Luna, dan Lisa menengok ke belakang.
“Hantu…!!!,” teriak mereka bersamaan.
“Lari…!!!.”
Mereka berlari sekuat tenaga. Lisa paling depan. Di belakangnya menyusul Luna dan Dini. Siti berada paling belakang. Merasa kasihan pada adiknya, Dini pun menengok ke belakang untuk melihat keadaan Siti. Tanpa sengaja Dini melihat ke arah pohon besar tadi. Ada sesuatu yang dilihatnya. Bukan, itu bukan hantu. Itu orang, ya…orang, manusia!
“Sepertinya aku kenal.,” gumam Dini.
Sampai di rumah, adzan Maghrib berkumandang. Mereka berempat berhenti di depan rumah, mengatur nafas yang masih belum teratur. Tiba-tiba, Siti pingsan.
“Siti, Siti,…! Bangun, Siti!,” teriak Dini sambil menggoncang-goncangkan tubuh Siti.
“Sudahlah, Din. Sebaiknya Siti dibawa masuk ke rumah dulu.,” kata Luna.
Mereka bertiga membopong Siti ke dalam. Nenek Dini terkejut sekali melihat keadaan Siti.
“Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan Siti?,” tanya nenek.
“Tidak tahu, Nek. Tadi tiba-tiba setelah sampai di rumah, Siti pingsan.,” jawab Dini.
“Mungkin Siti kecapaian, Nek. Jadi badannya lemas, lalu pingsan. Mungkin sebentar lagi Siti siuman.,” kata Luna.
Akhirnya mereka berempat meninggalkan kamar Siti. Dini, Lusi, dan Luna pergi mandi, sedangkan nenek ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Selesai makan malam, Dini menengok Siti di kamarnya. Dia belum juga siuman. Akhirnya Dini meninggalkannya dan bergabung dengan Luna dan Lisa di serambi depan. Rupanya mereka masih membicarakan apa yang mereka lihat sore ini.
“Hai, Din! Menurut kamu apa benar yang kita lihat tadi itu benar-benar hantu?,” tanya Lisa.
“Entahlah. Tapi tadi aku sempat melihat ada orang di dekat pohon itu. Mungkin dia tadi menyamar untuk menakut-nakuti kita. Dan sepertinya aku kenal.”
“Baiklah, kalau begitu kita cari saja dia! Akan ku hajar dia sampai dia tidak bisa sangun lagi! Dia sudah membuat kita ketakutan. Apalagi Siti sampai pingsan dibuatnya!,” kata Lisa dengan geram.
“Sabar, sabar! Simpan saja jurus karatemu untuk besok. Kita akan mencarinya besok.”
“Eh, kenapa kalian masih di sini? Sudah malam, sebaiknya kalian tidur.,” kata nenek.
“Baik, Nek! Ayo teman-teman kita tidur!,” kata Dini.
Keesokan paginya mereka benar-benar mencari orang yang sudah menakuti mereka.
“Kamu masih ingat wajahnya kan, Din?,” kata Lisa.
“Tentu saja. Lagipula aku sudah mulai ingat siapa dia dan di mana kita akan menemukannya. Ayo!”
Luna dan Lusi pun mengikuti Dini. Mereka tidak tahu akan diajak ke mana olehnya. Mereka yakin Dini sudah tahu siapa yang menyamar menjadi hantu kemarin.
Tiba-tiba Dini menghentikan langkahnya di sebuah rumah yang cukup bagus. Dengan peenuh percaya diri, Dini masuk dan mengetok pintu rumah itu.  Tak lama kemudian pintu terbuka dengan seorang wanita berdiri di belakangnya.
“Selamat pagi, Bu! Bisa bertemu dengan Doni? Saya Dini, cucu  ibu Surti.”
“Oh…rupanya nak Dini. Selamat pagi. Doni sedang mandi. Ada perlu apa, ya? Mari, silakan masuk!”
“Tidak usah, Bu. Saya hanya ingin titip pesan kalau Doni ditunggu seseorang di dekat pintu masuk hutan jati. Katanya sih penting,”
“Tapi apa tidak sebaiknya nak Dini menunggu Doni selesai mandi? Mungkin sebentar lagi dia selesai.”
“Tidak usah, Bu. Saya terburu-buru. Permisi, Bu!”
“Ya, Nak. Hati-hati di jalan, ya!”
Dini pun pergi dan menghampiri teman-temannya yang menunggu di halaman. Dari wajahnya, Dini tampak gembira sekali.
“Ada apa sih, Din? Kayaknya seneng banget.,” tanya Lisa.
“Sekarang kita ke hutan jati. Nanti aku ceritakan semuanya di sana. OK!”
Merekapun pergi ke hutan jati. Sesampainya di hutan, Dini menceritakan semua tentang Doni dan kecurigaan Dini terhadapnya.
“Jadi Doni yang sudah menyamar jadi hantu untuk menakut-nakuti kita?,” kata Luna dengan kesal.
“Mungkin. Tapi yang pasti aku yakin banget kalau wajah yang aku lihat di dekat pohon kemarin itu dia.”
Tak lama kemudian, Doni datang.
“Itu dia orangnya. Yuk!”
“Hai, Doni! Masih ingat dengan kami? Kan baru kemarin sore kita ketemu. Iya, kan?,” kata Dini dengan pandangan menyelidik.
“E…e…i…iya, Din.”
“Jadi benar, kamu yang sudah menyamar jadi hantu dan menakut-nakuti kami?,” bentak Lusi.
“E…e…”
“Ayo jawab!”
“I…i…iya…iya…”
“Ternyata tebakanmu jitu juga, Din!,” kata Luna.
“Cepet minta maaf!,” bentak Dini.
“He…??”
“Minta maaf!”
“I…iya. Maafin aku, Dini. Maafin aku…”
“Luna!”
“Maafin aku Luna. Maafin aku…”
“Lisa!”
“Maafin aku Lisa. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.”
“Ya udah, kami maafin. Yuk teman-teman kita pulang!,” kata Dini.
Merekapun pulang meniggalkan Doni sendirian yang masih diliputi rasa bersalah. Sampai di rumah nenek Dini, mereka terkejut bukan main. Di sana berkumpul banyak orang. Karena khawatir, mereka buru-buru masuk ke dalam rumah dan mencari nenek Dini.
“Ada apa, Nek? Kenapa orang-orang berkumpul di sini?,” tanya Dini.
“Siti, Siti kesurupan.”
“Kesurupan?”
“Tunggu Dini, kamu mau kemana?”
“Melihat keadaan Siti, Nek.”
“tidak usah. Di dalam sudah ada Mbah Dukun yang mengobati Siti.”
“Dukun?”
Rombongan orang-orang yang berada di rumah nenek Dini membubarkan diri menjelang Maghrib. Dukun yang tadi mengobati Siti pun sudah pergi. Beberapa saat setelah itu, Dini pergi sendirian ke rumah Doni. Dini menyuruh Doni untuk datang besok pagi setelah Subuh. Di rumah, nenek masih melarang Dini dan teman-temannya melihat keadaan Siti dengan alasan agar tidak ikut kesurupan. Merekapun menurut.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam saat Dini keluar dari kamarnya dan menuju kamar Siti. Ternyata Siti belum tidur. Dini pun mendekatinya. Tiba-tiba Siti memeluknya sambil menangis.
“Kak, Siti takut sekali!”
“Kamu tidak apa-apa Siti? Kata nenek kamu kesurupan.”
“Aku ketakutan, Kak. Aku takut dimarahi nenek karena telah melanggar nesehatnya. Aku juga takut kalau…kalau hantu itu datang kemari dan mengejarku. Aku takut, Kak. Aku tidak bisa tidur.”
“Tidak apa-apa. Ada kakak disini. Sekarang kamu tidur sama kakak, ya!”
Esoknya, Doni benar-benar datang. Dengan ditemani Dini, dia menjelaskan tentang peristiwa sore itu, sekaligus meminta maaf kepada Siti. Akhirnya Siti bisa kembali tenang dan tidak shok lagi.
Sampai Dini pulang, nenek Dini masih belum tahu kalau kemarin Siti hanya shok saja. Nenek Dini masih beranggapan kalau Siti sembuh berkat Mbah Dukun yang datang kemarin. Mereka sengaja tidak memberi tahu nenek cerita sebenarnya. Mereka takut kalau nenek tersinggung dan marah.
Liburan tahun ini benar-benar menyenangkan bagi Dini dan teman-temannya. Mereka mendapatkan pengalaman yang menyenangkan, menegangkan, sekaligus menggelikan karena nenek Dini yang masih percaya tentang hal-hal gaib. Lain kali kalau mereka berlibur ke Maja, mereka sepakat akan pergi ke pohon besar itu lagi. Kira-kira ada cerita apa lagi ya tentang pohon itu?

_Dp5_
^_^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s